SUATU SENJA DI PANTAI WAE SUGI

Cerpen:
Agustinus Ghedo Thuru

Menumpang  bemo dari Bajawa ke Malapedho  tidak lagi seperti  duapuluh tahun lalu. Ketika itu belum ada bemo tetapi ada sejenis angkutan umum yang diberi nama Bis Kayu. Entah mengapa diberi nama bis kayu. Mungkin karena bak belakangnya terbuat dari bilah-bilah kayu kemudian diberi atap. Lalu diberi bilah kayu berderet-deret  sehinga  bisa mengangkut puluhan orang.Orang-orang di kampungku menyebutnya  papan.

Duapuluh tahun lalu  bis kayu dari Malapedho ke Bajawa  tidak hanya mengangkut manusia. Barang dagangan  dan barang bawaan diangkut pada bis kayu yang sama. Kelapa, babi dan pisang, kayu bakar  dan semua yang bisa diangkut  pasti tak akan ditolak oleh om sopir. Dan sepanjang jalan para penumpang  seperti sedang berjoget riang diiringi lagu  dangdut  yang sengaja dihidupkan.Ketika itu belum ada lagu-lagu Bajawa yang  saat ini makin popular untuk mengringi tarian Ja’i. Lagu dangdut  menjadi sangat populer di kampungku.
Entah mengapa aku kembali terkenang  duapuluh tahun lalu ketika aku membawa Cicil pulang ke Flores. Setelah menikah di kota Padang  dan bekerja setahun di sebuah radio  sebagai penulis naskah  aku memutuskan untuk pulang ke kampung. Aku sudah menceriterakan pada Cicil  seperti apa  kampungku. Pasti  akan sangat jauh berbeda dengan kota Yogyakarta atau  kota Wonosari tempat kelahirannya. Tapi ketika itu ia tak mempersoalkan  kampungku. Ia hanya mengharapkan  apa yang disumpah di depan altar  agar abadi. Makanya ketika itu ia mengatakan.
“ Cinta itu pengorbanan lahir dan batin. Maka perlu kesetian. Dan aku akan setia mengikuti jalan hidupmu, kemana pun engkau pergi” Cicil yang berusia  24 tahun kala itu menatap wajahku yang telah 35 tahun.
“ Kalau  demikian  aku siap membawamu ke kampungku, Maghilewa”
“ Bawalah aku Mas,kemanapun engkau pergi.Kalau bisa ke bulan aku  akan ikut.Tapi hanya satu tempat aku ogah, ke neraka”, Cicil tersenyum. Oh, manis dan cantik.

Ini sepenggal kenangan yang  entah mengapa tiba-tiba datang lagi. Kenangan ketika  senja di pantai Padang  aku dan Cicil menghadap laut Hindia  dan mengucapkan selamat tinggal Ranah Minang. Lalu persis tengah malam  sebuah bis membawa kami ke Yogyakarta. Kami harus singgah  untuk pamitan dengan orang tua di Baleharjo Wonosari  sebelum melanjutkan perjalanan  ke Malapedho. Dan setelah dua minggu perjalanan melintas pulau Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa  serta Flores  kami tiba di Aimere. Tak ada Bis Kayu yang ke Malapedho, juga tak ada bemo. Yang kebetulan lewat adalah  sebuah truk bermuatan pasir. Aku dan Cicil pun menumpang  truk bermuatan pasir tersebut.
“ Wouhh, penuh tantangan,Mas” Kudengar Cicil  berguman.
“ Inilah Flores, serba penuh keterbatasan. Tetapi di Flores  ari-ariku ditanam, mungkin digantung di atas pohon. Maka aku harus pulang untuk berdamai dengan leluhur agar ia  bersekutu dengan Tuhan, segera memberi kita momongan”. Bisikku pada Cicil.
“ Jangan keras-keras Mas nanti didengar om Sopir”, Cicil bercanda.

Dan persis pada senja pertama kami tiba di lorong satu, di Malapedho. Kulihat  Cicil  terpanah  memandang rumah  gubuk yang akan kami diami. Rumah beratap alang-alang, berdinding  pelupu dan berlantai tanah yang jarang disiram. Rumah warisan  almarhum ayah dan ibu. Rumah penuh kenangan  yang kudiami ketika  menjadi guru muda di SMP Pancakarsa.
“ Kita akan diam di rumah ini?”. Tanya Cicil.
“ Yah, untuk beberapa bulan selama aku berdamai dengan leluhur dan  aku mengajarmu bagaimana mengenal nenek moyangku. Setelah itu  kita terbang  lagi ke mana saja kita mau. Kita ini pasangan petualang yang harus siap  beranjak jika waktu mengharuskan”, ujarku.
“ Terserahmu aja Mas, aku siap melo (ikut) kemana saja”. Cicil tersenyum.
“ Kau kecewa  akan mendiami rumah gubuk ini?”, tanyaku.
“ Nggak (tidak) Mas, tidak. Aku sudah berjanji, bersamamu selalu dalam suka dan duka, untung dan malang, di saat sakit maupun sehat. Jadi….” Aku menempelkan jari di bibirnya  sebagai isyarat  agar Cicil tak perlu melanjutkan kata-katanya. Aku sudah tahu  sejak kami kuliah di Madiun. Cicil adik kelasku yang  membuatku berdegup setiap saat.

Aku benar-benar menunaikan tugasku berdamai dengan leluhur. Aku dan Cicil mengunjungi semua kuburan  menyalakan lilin dan berdoa. Mengunjungi  watulanu, uma moni dan ornamen budaya warisan leluhurku. Cicil harus megikuti sejumlah ritual adat  agar ia  segera menyatu dengan leluhurku  di Sao Ne Ledo  dan  rumah adat lainnya  yang bernaung di bawah atap Ngadhu Liko dan Bhaga Bari Tea. Dan setelah semua ritual dijalankan  aku membawa Cicil ke  seorang  mama yang spesial mengurut kandungan. Orang di kampungku menyebut Lima Mali. Dua bulan  Cicil menjalani  rawat urut.

Bayangkan, seorang perempuan Yogyakarta  dengan latar belakang dari keluarga yang ayahnya kepala sekolah harus rela diurut oleh  mama di kampung. Tetapi  ia semakin familiar. Cicil menerima  suasana kampungku dengan  penuh kepasrahan. Bahkan ia mulai pintar meramas santan kelapa untuk dimasak menjadi minyak goreng. Dan itu menjadi sumber pendapatan kami  selama  tinggal di Malapedho.

Malapedho duapuluh tahun lalu belumlah seperti sekarang. Jalan  masih berdebu, lorong-lorong masih bertanah kering. Tetapi  bagi Cicil  ada yang menarik. Ketika hari-hari pertama  ia menjadi penghuni Malapedho, puluhan peristiwa mendebarkan terjadi. Orang-orang menyapanya dengan  suara keras, seperti  sedang  marah. Tetapi kemudian mereka mengulurkan tangan dan bersalaman akrab.
“ Aku paham Mas, karakter orang di sini. Sangat terbuka, bicara apa adanya, ramah dalam  suara mereka yang keras. Lama-lama aku  jadi kerasan”
“ Hanya itu yang membuatmu kerasan?”
“ Oh nggak Mas. Banyak  hal yang membuatku kerasan. Memandang gunung Inerie di pagi cerah. Memandang laut bening dan bebatuan hitam.Memandang  senja  yang selalu memanahku. Dan…mungkin di Malapedho  aku akan menulis sejarah dalam jiwaku untuk kukenang seumur hidup”.
“ Senja, wouhh, kan sekarang  senja, ayo kita ke pantai Wae Sugi”

Dan aku menggamit lengan Cicil. Melangkah berdua di jalanan  berdebu. Lalu menuruni  batu karang di bibir jurang. Debur ombak  seolah menyapa. Burung  pergam  terbang melayang-layang. Kelelawar mulai keluar dari sarangnya  dan entah kemana ia akan terbang  menerobos langit biru. Lalu kami duduk di sebuah batu besar. Memandang laut lepas. Memandang bulatan matahari di ujung gunung  Wolo Roga. Memandang  laut biru di ujung Ngalu Roga.
“ Oh betapa dasyat karya ciptaanMu Tuhan.Tapi kapan Engkau akan bersekutu dengan leluhurku  agar segera mengirim aku buah rahim dambaan? Aku berdoa.
Cicil menggenggam jemariku. Ia memandangku dan mendaratkan sebuah ciuman. Memelukku dengan erat.
“ Aku terlambat satu bulan”
“ Maksudmu Cicil?”
“ Kata mama urut, aku  sudah  ada”
“ Benar?”
“ Yah”

Aku ingin mengangkat  tubuhnya lalu seperti  bola, aku ingin melemparnya ke udara  lalu kutangkap dan kulempar lagi ke udara  seperti  seorang bapak  bermain dengan anaknya. Inilah kabar terbesar yang aku tunggu dan kini telah terjawab. Bergegas kami pulang ke rumah sederhana  untuk menyiapkan bawaan. Karena esok hari kami harus ke Bajawa, ke rumah sakit untuk mendapat kepastian. Kabar terbesar itupun menjadi nyata setelah  pemeriksaan kandungan. Cicil hamil.
Kenangan duapuluh tahun lalu inilah yang membuatku seolah tak merasa lelah ketika baru saja turun dari Bemo yang membawaku dari Bajawa ke Malapedo pertengahan November. Tepat  ketika senja merebak di Wae Sugi.
 Aku kembali bertandang di batu padas ini ingin mencari jejak Cicil. Ingin menulis kenangan  masa penantian  dulu. Ingin menghitung kembali  sejuta kenangan di pantai ini. Kenangan masa kecil, kenangan masa remaja  dan kenangan  ketika setahun menjadi guru di Malapedho. Aku mengabadikan  batu itu untuk kuwariskan pada anak sulungku. Agar ia tahu bahwa pada suatu senja di Malapedho  ibunya  menyemainya  dalam rahimnya.Dan pada senja setelah duapuluhtahun berlalu aku mengenang cinta, betapa penuh jalan juang untuk mendapatkanmu, anakku. Kuharap engkau datang ke Wae Sugi dan menyempatkan diri memandang matahari senja di barat dari atas batu ini, meskipun aku sudah jauh melangkah ke tapal batas terakhir.***

Waesugi, Senja 11 November 2015


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

PENYERAHAN