SUATU HARI DI KOTA BAJAWA
Pada kemarau panjang
Tak ada embun menetes
Dari ranting-ranting bambu
Dan aroma kopi arabika
Menerbangkan jiwaku
Ke sudut-sudut kota mencari
jejak
Yang mungkin masih tertinggal
Agar kupenuhi lumbung tualang
Yang segera dibangun
Kota gulita pada
cuaca malam
Ketika listrik
sejenak padam
Merindu embun malam jatuh
dari langit
Ah, angin dingin sementara
hilang
Sebab kota ini sedang dalam
balutan
Kobaran api perang saudara
Perseteruan yang datang
lagi
Setelah hening panjang lima
tahunan
Bajawa di malam sunyi
Hening dalam pelukan perbukitan
Burung-burung malam menyepi di
Wolo Ngadha
Burung pipit pulas tidur di Pipi
Podo
Dan perkutut mengasoh di Lebi
Jaga
Sedang petualang menyusuri
lorong-lorong
Bersua dengan
sejuta wajah
Yang bingung menerima
lamaran
Bertanya, kepada siapa kami
berikan kepercayaan?
Selamat malam Bajawa
Hangat mataharimu telah berlalu
Tetapi di tungku-tungku kehidupan
Masih ada api unggun yang
menyala
Saling membakar sukma
Ketika kotamu sedang
merancang
Sebuah pesta akbar
Agar rakyat memberi
suara
Supaya ada yang bertahta di
singgasana
Bajawa di sunyi malammu
Aku menyapa dengan ujung
pena
Matikan bara api di
ubun-ubunmu
Sebab kotamu milikmu
Daerahmu rahimmu
Dan kamu anak-anak satu sangkar
Yang tak pernah bisa
terpisahkan
Anak-anak satu tanah:
Ngada!***
Bajawa, Malam 10 November 2015
Komentar
Posting Komentar