PUISI KEHIDUPAN 1
Kami tidak minta dilahirkan
Tetapi kami harus tetap ada
Karena ketiadaan kami
Akan menghentikan denyut dunia
Tetapi kami harus tetap ada
Karena ketiadaan kami
Akan menghentikan denyut dunia
Kami tidak minta dilahirkan
Tetapi kami dibutuhkan
Sebab masa depan dunia
Kami yang menentukan
Tetapi kami dibutuhkan
Sebab masa depan dunia
Kami yang menentukan
Sekarang kami ada dan hidup
Dalam genggaman tanganmu
Dan bila sampai waktunya
Kami akan menggenggam dunia
Dalam genggaman tanganmu
Dan bila sampai waktunya
Kami akan menggenggam dunia
Kami ada di masa kini
Oleh cinta yang tulus
Dan kerinduan yang menyirami bumi
Terimakasih untuk butir-butir cinta
Oleh cinta yang tulus
Dan kerinduan yang menyirami bumi
Terimakasih untuk butir-butir cinta
Kami berharap karena cinta pula
Jalan terbentang ke masa depan
Dan kami boleh melangkah padanya
Sampai memetik bintang di langit
Jalan terbentang ke masa depan
Dan kami boleh melangkah padanya
Sampai memetik bintang di langit
Biarpun hari ini kami turut
menjerit
Ketika kelahiran kami disia-siakan
Dibuang di selokan bau tengit
Kami berdoa untuk perhentian jiwanya
Ketika kelahiran kami disia-siakan
Dibuang di selokan bau tengit
Kami berdoa untuk perhentian jiwanya
Kami ingin kebejatan segera
berakhir
Dan kami lahir untuk menyempurnakan dunia
Tidak untuk dibenci dan dimusuhi
Karena kamipun tak minta dilahirkan
Dan kami lahir untuk menyempurnakan dunia
Tidak untuk dibenci dan dimusuhi
Karena kamipun tak minta dilahirkan
Kami ada di masa kini
Ada dalam genggamanmu
Dan kamu yang menentukan
Kami melesat ke masa depan atau sayap kami dipatahkan
Ada dalam genggamanmu
Dan kamu yang menentukan
Kami melesat ke masa depan atau sayap kami dipatahkan
Kami hanya minta kebebasan
Beri kami butir-butir cinta
Agar kami tetap melihat dunia
Dan menentukan sendiri kemana kami pergi
Beri kami butir-butir cinta
Agar kami tetap melihat dunia
Dan menentukan sendiri kemana kami pergi
Aku dilahirkan
Tidak untukmu
Tetapi untuk semesta
Agar tetap bermakna.***
Tidak untukmu
Tetapi untuk semesta
Agar tetap bermakna.***
Denpasar, 15 September 2015
Komentar
Posting Komentar