KAU PENGECUT



Enam bulan lalu kau berkoar-koar
Seperti kerbau jantan sedang birahi
Berlari di padang luas sambil mengoak
Benar-benar perkasa
Kau kepalkan tangan
Menepuk dada
Lihat, ini aku!
Politisi tulen
Siap bertarung
Mencundangi petahana
Di panggung pesta demokrasi rakyat


Dua minggu lalu kau masih berkoar-koar
Seperti lembu jantan siap menyeruduk
Siapa bakal lawan-lawanmu
Kau datangi gedung KPU
Dayang-dayang tim sukses mengiringmu
Dengan balutan adat
Kau tampak berwibawa
Tersenyum kepada warga kota
Seolah menebar warta
Ini aku Walikotamu!


Empat hari lalu kau mulai diam
Suaramu ditelan galau
Kau mulai mengkhianati dirimu sendiri
Birahi politikmu mati lemas
Ketika kau harus memilih
Tetap di rumah rakyat
Atau siap melanglah ke kursi birokrat
Kau tampak seperti layang-layang di udara
Digoyang-goyang hingga kau pusing
Kau pun diam seribu bahasa


Dan di batas terakhir
Pada seutas waktu untukmu
Kau pun kibarkan bendera hitam
Birahi politikmu mati
Kau mengangkat tangan menyerah
Mundur dari percaturan demokrasi publik
Kau pasti punya alasan
Untuk pertanggungjawaban kepada rakyat
Tapi aku tahu mengapa langkahmu terhenti
Karena kau tak mau kehilangan
Piring nasi yang telah kau nikmati selama ini
Ah, kau pengecut
Aku kecewa padamu.****


Denpasar, 9 Agustus 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU