RINDU NATAL DI DESA
Malam ini
natalku entah yang keberapa
Yang kurayakan di tengah
hingar bingar kota
Di gereja megah
seribu lilin menebar harum
Disepuh cahaya lampu
pijar
Pada aroma bau parfum
dan gincu
Perempuan menghadang
Tuhannya
Dengan busana setengah
telanjang
Sambil memijit
tombol selular
Membuang jenuh pada
kotbah pastor
Yang tak
dimengertinya
Malam ini natalku
terulang kembali
Di gereja
tersulam megah mewah
Bunga-bunga dari
swalayan menghias altar
Aroma kapur barus
mengisi bangku-bangku
Pujian
mengalir seperti turunnya hujan
Suara pemadah pun
terlumat music iringan
Dan nada pemazmur
pun tenggelam
Di hentakan music
pengiring
Yang kehilangan
rasa risih
Ya Tuhan aku rindu
natal
Di desa lereng
gunung
Ketika
usiaku kanak-kanak
Saat ibu menuntun
tanganku
Menuruni jalan terjal
Melintas
kebun menuju gereja tua
Menyaksikan perempuan
berbalut lawo
Dan para lelaki memakai
sapu
Mengidung
lagu-lagu natal
Tanpa teks dan tanpa
iringan alat musik
Aku rindu natal di desa
Dalam kesederhanaan
Aku rindu suara
merdu ibu
Yang
melantunkan lagu pujian
Dalam tingkah kesahajaan
Rindu saat-saat
usai natal
Menikmati
malam panjang
Di teda sa’o
meze
Menikmati maki
reba
Oh, aku
rindu natal di desa
Tanpa bau parfum tanpa
gincu
Tanpa perempuan setengah
telanjang
Aku rindu
natal bersama ibu
Seperti waktu aku masih
kecil
Meski aku tak mungkin
mengulanginya.***
Denpasar, 24 Desember
2015
Komentar
Posting Komentar