JERE
Menjadi anak tangga
Masih ada rerumput musim
kemarau
Menadah panas mentari
Kampung yang
berteduh
Pada gemulai daun kemiri
Pada gulungan pucuk
pisang kepok
Dan didupai aroma
bunga cengkeh
Di sini leluhur-leluhur
hidup
Seribu jasad menyatu
bumi
Dan roh-roh
mereka tetap hidup
Menyatu dalam kehidupan
nyata
Yang berpapasan pada
setiap saat
Pada warisan yang
masih tertanam
Di loka nua: Jere!
Ini kampung seribu
kisah
Tentang pusat
kehidupan
Dan kisah rahim-rahim
Yang melahirkan
keturunan
Menghabiskan masa
kanak-kanaknya
Setelah itu
mengepak sayap
Terbang jauh
mencari surga
Membiarkan
kampung dalam kenyapan
Tanpa suara canda
di musim terang bulan
Dan dari kejuhan mencob
mengeja: Jere!
Oh Jere…
Kampung leluhur berbudi luhur
Menyimpan Sa’o
yang kokoh
Dengan pintu-pintunya
yang tak lagi terbuka
Ngadhu yang
kesepian
Yang tubuhnya telah lama
Tak teroles darah korban
Bhaga yang
senyap
Yang tak pernah
disinggahi
Anak-anak generasi
pewaris
Jere hari ini kulihat
Tersenyum menyapa
Dan menitip
pesan:Beritakanlah
Katakan mereka
yang lama tak datang
Masih adakah rasa rindu
Untuk membuatmu pulang?
Di sini, Jere
menunggumu.***
Komentar
Posting Komentar