JERE



Bebatuan  masih tersusun
Menjadi anak tangga
Masih ada rerumput musim kemarau
Menadah panas mentari
Kampung  yang  berteduh
Pada gemulai daun kemiri
Pada gulungan pucuk pisang kepok
Dan didupai aroma  bunga cengkeh

Di sini leluhur-leluhur hidup
Seribu jasad menyatu bumi
Dan roh-roh  mereka  tetap hidup
Menyatu dalam kehidupan nyata
Yang berpapasan pada setiap saat
Pada  warisan yang masih tertanam
Di loka nua: Jere!

Ini kampung  seribu kisah
Tentang  pusat kehidupan
Dan kisah rahim-rahim
Yang melahirkan keturunan
Menghabiskan  masa kanak-kanaknya
Setelah itu  mengepak sayap
Terbang  jauh mencari surga
Membiarkan  kampung  dalam kenyapan
Tanpa  suara canda di musim terang bulan
Dan dari kejuhan mencob mengeja: Jere!

Oh  Jere…
Kampung leluhur berbudi luhur
Menyimpan Sa’o yang  kokoh
Dengan pintu-pintunya yang tak lagi terbuka
Ngadhu  yang  kesepian
Yang tubuhnya telah lama
Tak teroles darah korban
Bhaga  yang  senyap
Yang tak pernah disinggahi
Anak-anak generasi pewaris

Jere hari ini kulihat
Tersenyum  menyapa
Dan menitip pesan:Beritakanlah
Katakan mereka yang  lama tak datang
Masih adakah rasa rindu
Untuk membuatmu pulang?
Di sini, Jere menunggumu.***

Jere, 12 November 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU