MUSIM KEMARAU



Oh musim kemarau
Di bumi kami aku bersenandung
Pada deramu mungkin masih panjang
Tangan kami terus tertadah ke langit
Menunggu tetes-tetes hujan
Menyiram kembali telaga yang kering

Daun-daun berguguran
Dahan-dahan mengering
Ranting-ranting kerontang
Tanah sawah retak menganga
Tegalan kian gersang
Dan rakyat menjerit dahaga

Banjir bandang musim hujan
Sementara bersembunyi entah dimana
Enggan melahap para korbannya
Kabut hitam sementara tak melintas
Tak mengundang air kehidupan
Hanya air mata menghias mesbah persembahan

Sungai-sungai mengering
Meninggalkan punggung-punggung batu padas
Rakyat mencari kubangan
Demi setetes air berlumpur
Bertarung dengan kerbau gembalaan
Karena kehidupan harus berjalan terus
Sambil menunggu amuk kemarau berlalu

Di gereja berkumandang untaian doa
Di Mesjib berkumandang doa permohonan
Di kelenteng berkumandang doa pinta
Dan di mesbah persembahan asap dupa menebar wangi
Berharap ada tumpahan dari langit
Menyiram bumi untuk kembali bertunas

Oh musim kemarau
Datangmu di setiap jengkal tahun
Membakar dan memanggang kehidupan
Melahirkan tangan-tangan liar
Dan jiwa-jiwa biadab
Mencipta kabut asap
Membawa kematian
Meski bukan kehendakmu

Kemarau
Berlalulah
Agar hujan turun
Dan bumiku bertunas lagi
Dan tangan-tangan biadab
Tak lagi menebar bencana asap.***

Denpasar, 17 September 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU