SURAT KEPADA MAS MUDIN




Mas Mudin, aku ingat sebuah kisah lama
Telah berlalu puluhan tahun
Engkau pasti masih ingat
Tentang sebuah pertemuan singkat di kota Sabang
Lalu berlanjut di Serambi Mekah
Ketika aku bertualang di negeri kita Aceh
Milik kita anak satu bangsa

Kuharap engkau belum merobek
Halaman buku harianmu
Yang bertuliskan sajak-sajak malam mendamaikan
Dan puisi-puisi pagi menyejukkan
Syair-syair terik matahari yang hangat
Yang kita gores bersama
Ketika bahasa sukma itu tak terbendung
Mengalir dari hati penuh persaudaraan

Aku masih menyimpan satu lusin kenangan
Pada lembar-lembar kusam buku harian
Meski makin buram dimakan jaman
Karena perpisahan kita sudah terlalu lama
Terakhir engkau mengabarkan dirimu
Ketika Tuhan meluputkan engkau dari air bah
Pada tragedi tsunami tempo hari
Kau bilang: Teman aku baik-baik saja!

Aku masih menyimpan catatan harianmu
Yang kau kirim untuk aku edit
Catatan tentang orang-orang tanpa sekat
Tak perduli lagi warna kulit atau anak bangsa mana
Tak bicara lagi apa agama dan kepercayaan
Tak melihat lagi mereka beribadah di gedung mana
Karena bahasa cinta kasih waktu itu
Jauh lebih berharga untuk disandingkan
Di hati sanubari umat manusia
Untuk mengubah kemalangan menjadi kegembiraan

Mas Mudin kuharap kau masih sehat
Karena aku pun di pusaran usiamu
Kita memang tak pernah lagi bertegur sapa
Sudah lama sekali ya mas
Aku rindu datang ke Aceh
Berkunjung ke Sigli
Sekedar menghitung berapa jumlah
Rumah Tuhan yang dilahap nyala dan bara api
Yang disulut tangan-tangan pengaku pembela Tuhan
Tuhan yang kita sama-sama sembah

Mas Mudin aku rindu Aceh yang damai
Aceh yang penuh persaudaraan
Aceh yang penuh cinta
Aceh yang bebas dari bau tengik SARA
Aceh yang dibalut bhineka tunggal ika
Aceh yang bebas dari orang-orang murka
Berdoalah mas dengan cara kita masing-masing
Agar negeri kita tentram damai
Karena Tuhan itu paham bahasa doa kita
Meskipun diucapkan dengan cara yang tak dimengerti
Oleh kawanan manusia.***

Denpasar, 14 Oktober 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU