JALAN TERJAL UNTUKMU




Ketika aku sendirian di bilik suara
Aku menyebut namamu
Mencoblos wajahmu
Dan  hatiku berbunga-bunga
Dan senyumku merekah
Menggelayut di belantara mimpi
Esok hari akan lebih baik
Karena  engkau memberi harapan
Menebar janji-janji
Dan aku terpesona

Pesta kemenanganmu  digelar
Aku dan berjuta pemukaumu
Menari  dalam iringan musik perubahan
Berharap  harga minyak turun
Dan tarif listrik tak lagi mencekik
Berharap harga tanah tak lagi melambung
Dan harga sembako tak lagi membengkak
Berharap  ada revolusi mental
Seperti yang engkau janjikan

Setelah pesta kemengan usai
Kurasakan badai berhembus kencang
Menyembur bagai lahar panas
Dari gedung wakil rakyat
Pamer kekuatan dan kesombongan
Parade  perebutan  kekuasaan
Dan engkau  di arena  yang kalah
Bermain catur  politika
Aku  terenyuh melihat kesendirianmu

Engkau melangkah di jalan terjal
Diapit  para pemain yang kehilangan rasa malu
Yang memiliki mata hati yang buta
Hingga tak bisa melihat  nasib rakyat
Yang makin terkapar dalam ketakberdayaan
Telinga mereka pekak
Hingga tak mendengar rakyat menjerit
Hati mereka  terbalut  kawat baja
Hingga tak mampu memancarkan belaskasihan
Negeri ini  dalam kemarau
Dalam warna galau tak mempesona

Di tengah  kegaduhan
Perut rakyat yang keroncong
Lihatlah mereka merancang
Proyek  gedung dewan
Berharga triliunan rupiah
Dengan dalil  demi rakyat
Lihatlah mereka minta gaji dinaikkan
Dengan dalil demi pelayanan
Lihatlah mereka minta tambah tunjangan
Dengan dalil  demi kesejahteraan
Ah… tahta mereka adalah perut mereka
Dan rakyat  menjadi komoditas propaganda

Setahun  engkau melangkah di jalan terjal
Ada onak duri dan kerikil-kerikil tajam
Seduhan-seduhan kata  menjadi  secangkir kopi
Untuk bahan gosip media di pagi hari
Ribuan  pendemo turun ke jalan
Mengibarkan bendera bertuliskan “kau gagal”
Lembaga survey meramu data dari satu dua rakyat
Untuk  membenarkan kegagalanmu
Pengamat-pengamat  menerormu
Atas nama kebebasan  berpendapat
Pada hal kau tidak sendirian
Mengurus negeri ini

Aku tahu  kau masih melangkah di jalan terjal
Pada  anak tangga kedua menuju garis finis
Teruslah menebar  semangat kesederhanaanmu
Jadikan kedua kakimu berdiri di semua  golongan
Aku tahu  engkau  belum  berhasil wujudkan janji
Tetapi  rakyat ingin  negeri yang  aman
Tanpa pertikaian karena beda agama
Tanpa pembunuhan karena  tanah tambang
Tanpa permusuhan karena  beda suku
Tanpa  pengejaran  di negeri sendiri
Tanpa pengungsi di tanah air miliknya
Dari sebuah pondok reot
Aku titip sejemput harapan
Katakan kepada sama saudaraku di Aceh
Bahwa  kita ini bersaudara
Meski beda agama
Dan beda rumah ibadah
Biarkan  rakyat memilih tempatnya berteduh
Di negeri bernama Indonesia.***

Denpasar 22 Oktober 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU