JANGAN WARISKAN PETAKA
Kita adalah pewaris tanah
hijau dan hutan belantara
Tanah berhumus dan satwa
langka
Gunung menjulang dan bukit
menghijau
Bukan sekedar kebanggaanmu
Tetapi sukacita semua anak negeri
Yang bernaung di bawah panji
kebesaran
Darah merah putih anak-anak
bangsa
Leluhur kita bersahabat dengan
ibu pertiwi
Membiarkan wajah negeri
tumbuh berseri
Memelihara pucuk-pucuk pohon
rimba raya
Tumbuh hingga menggapai langit
biru
Membiarkan batang-batang pohon
mengisi belantara
Karena mereka arif memberi
rumah yang nyaman
Bagi satwa langka yang
punya kehidupannya sendiri
Nenek moyang kita enggan merusak
perut bumi
Karena hidup mereka ada di atas
tanah
Mereka tidak tergiur emas berlian
di kandung ibu pertiwi
Tidak tertarik godaan
cukong negeri seberang laut
Yang menawarkan dolar dan
ringgit
Sambil berteriak: Gadaikan
tanahmu!
Akan kujadikan ladang sawit
dan kakao
Untuk kemakmuran bangsamu
Generai leluhur kita punya hati
baja
Yang tak bisa digoyahkan
oleh rayuan
Meski menawarkan istana
megah
Leluhur kita arif mewariskan pada
anak cucunya
Bumi yang mereka pijak dan tanah
yang mereka garap
Tetap dengan wajah cemerlang
Tanpa luka-luka buatan tangan
generasi yang tamak
Tapi generasi leluhur kita telah
berlalu
Mereka menyatu dengan debu
tanah negeri ini
Arwah mereka ada di
singgasana surga
Menyaksikan generasi kita
yang rakus
Yang menggadaikan tanah air
Untuk dikuasai para
orang kaya raya
Dari berbagai penjuru
dunia
Dan mereka menjadi penguasa
Di tanah warisan turun temurun
Generasi kita menjual kehormatan
bangsa
Kepada para pecandu harta
kekayaan
Dan mereka bebas menebas
hutan belantara
Meratakan lereng-lereng
bukit
Melobangi kulit bumi
Menimbun rawa
Menggusur satwa liar
Membunuh gajah dan haimau
Memusnahkan siamang dan
manusia hutan
Habis sudah warisan leluhur
Kita telah menggadai
semuanya
Tak ada nama besar yang
pantas kita titip
Untuk generasi setelah kita
Kecuali penderitaan lahir dan
batin
Kita hanya mampu mewariskan kabut
asap
Warisan petaka setiap kemarau
datang
Yang memangsa dengan lahap
Anak negeri sendiri.***
Denpasar, 23 September 2015
Komentar
Posting Komentar