PUEEEEHHHHH





Satu bulan kamu mengguncang negeri
Menyulut bara api permusuhan
Menyuguhkan serpihan kisah memuakkan
Menyidangkan  sosok pendosa
Sampai sangat menyeramkan
Ketika tubuh kalian berbalut jubah merah putih
Dan kalian  disebut  yang mulia
Kalian diagungkan dan disanjung
Dengan  sebutan  penuh sanjungan
Meski  jalan pikir kalian tak semulia jabatan
Karena aroma kebohongan tak tersembunyikan
Kamu bersekongkol dalam kumpulan para setan
Hingga sangat memuakkan rakyat
Puehh!

Kalian tampil di meja persidangan
Sebagai  kumpulan orang-orang mulia
Menteri menyapamu yang mulia
Jenderal menyapamu yang mulia
Andaikata presiden kamu jadikan saksi
Ia akan menyapamu yang mulia
Andaikata Tuhan juga dihadirkan sebagai saksi
Ia juga akan menyapamu yang mulia
Sedang perangaimu  memuakkan
Kamu tak pantas menyandang predikat  yang mulia
Pueeehhh!

Satu bulan kamu bersidang
Mengadili  pendosa yang sudah telanjang
Miliaran rupiah uang negara  dianggarkan
Untuk biaya  makan minum kalian
Untuk  bayar  jam lembur dan uang saku
Untuk sewa pemijet meluruskan otot-ototmu
Untuk membayar suaramu yang berkoar-koar
Dengan dalil membela kepentingan rakyat
Meski  kami sudah tahu
Kamu  hanya bermain akrobat
Penuh kepura-puraan
Sekedar membuat rakyat  diam terpanah
Atas  tipu daya yang berhasil kamu ciptakan
Kamu  kumpulan  orang-orang yang dipilih
Berwajah setengah setan dan setengah malekat
Pueehhh!***

Denpasar, 17 Desember 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU