MERINDU MATAHARI




Aku rindu matahari
Menyembul dari mahkotamu
Ujung gunung Inerie jelita bumi Ngada
Menerpa pucuk-pucuk lontar pesisir pantai
Menyuburkan batang-batang mayang
Menebarkan harum tuak putih
Mengundang sejuta madu
Berpesta di pelepah daunnya

Aku rindu matahari
Membuai ramah bumi Ngada
Meski musim kemarau masih menebar
Rindu cahaya memberi sejuta harapan
Kepada kawanan rakyat
Rindu matahari hangat
Dan orang-orang yang bermain cinta
Dalam kehangatan kemanusiaan

Aku rindu matahari
Menyembul dari mahkotamu
Ujung gunung Inelika pesona bumi Ngada
Rindu cahaya menerpa telaga warna
Mengecup pucuk-pucuk pohon ampupu
Dan menghangatkan riang-riang
Bersenandung merdu di padang ilalang
Rindu pertarungan bersahaja
Tanpa saling mendera

Aku rindu matahari di padang Riung
Menawarkan pesona di titik-titik dasyat
Memancarkan cahaya kemilau
Di punggung kerbau bajak sawah
Menikam cinta petani tua
Yang mendengar pidato sambil menyiang huma
Matahari yang membawa kabar indah
Yang tidak sebatas janji palsu

Aku rindu matahari Ngada
Terbit dan terbenam dalam lagu cinta
Datang dan pergi dalam kidung kasih
Aku rindu matahari yang ramah
Bercengkeraman di atas mesbah persembahan
Tanpa harus saling mendera
Rindu satu matahari yang pasti
Menurunkan berjuta keagungan tanpa perhitungan
Matahariku...matahari Ngada...
Aku selalu merindumu setiap saat.***

Denpasar, 24 Oktober 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU