KEPADA WAKIL RAKYAT DI SENAYAN




Aku tak pernah akan menyesal
Hanya karena aku telah memberimu satu suara
Sebab apa arti satu suaraku?
Toh namaku tak tercatat dalam buku cacatan harianmu
Maka aku sangat paham
Jika engkau dengan mudah mengkhianati aku
Rakyat yang engkau sebut konstituenmu
Yang sedang didera asap kabut
Dan dahaga panjang yang belum terpuaskan
Karena sungai-sungai sedang mengering

Aku sudah sangat paham
Jika  engkau  berkhianat padaku
Toh aku tak pernah mencatat janji-janjimu
Apalagi  janjimu telah terbang bersama waktu
Aku paham keadaanmu sekarang
Engkau  sedang ekstase menikmati kemewahan
Di rumah rakyat  bernama Senayan
Di ruang kerja yang dingin segar
Dan di ruang rapat yang yang  full  air condition
Hingga membuatmu pulas tidur
Dan terbangun lagi saat tepuk tangan riuh
Sambil berteriak: Setujuuuuuu

Aku sangat mengerti keaadanmu sekarang
Jika  engkau jarang menyuarakan keberpihakan padaku
Karena engkau sedang berjuang untuk menaikkan gajimu
Agar hutang di bank untuk biaya kampanye bisa engkau kembalikan
Engkau sedang berusaha menaikkan uang resesmu
Yang hanya separuh  engkau bawa ke daerah pemilihanmu
Dan separuhnya engkau gunakan untuk bersenang-senang
Dengan perempuan pelacur dan narkotika

Kami  juga sangat paham padamu
Ketika uang gaji dan tunjangan lainnya tak mencukupi
Engkau harus menyamar menjadi tikus pengerat
Yang  mencuri  bulir-bulir padi di lumbung rakyat
Engkau menjelma menjadi tikus-tikus berdasi
Yang rajin menggelar pertemuan di hotel-hotel
Dengan para pejabat pemegang kuasa proyek-proyek
Sambil mengalkulasi berapa bagian yang engkau dapatkan
Engkau bersoark sorai ketika tak tertangkap KPK
Juga tak malu  meskipun digelandang ke rumah tahanan
Dicemoohi sorakan: Koruptor Brengsek!

Kami sangat mengerti siapa engkau sekarang
Gaya hidup orang desa  lenyap darimu
Karakter wong cilik tak terpancar lagi
Engkau benar-benar tampil sebagai orang besar
Engkau sudah enggan turun ke desa
Apalagi  sekedar merasakan keseharian rakyat
Yang harus memeras keringat  demi kelanjutan hidup
Bahkan  harus  mengikat perut menahan lapar
Karena  uang kini sudah semakin langka didapatkan
Anehnya dari gedung megah itu
Engkau berpidato dengan selalu  atas nama rakyat
Kau benar-benar pengkhianat rakyat

Kami  berusaha mengerti  siapa kau sekarang
Engkau tak lagi rajin kembali ke desa
Studi banding pun cenderung ke luar negeri
Sambil  jalan-jalan dan belanja barang mahal
Triliunan  uang rakyat kamu yang makan
Tetapi kamu yang teriak: APBN 2016 tak pro rakyat
Kamu yang selalu menjegal kebijakan tuan presiden
Tetapi kamu pula yang bicara: Kinerja Pemerintah tidak memuaskan!
Aku bosa melihat kamu bicara
Sebab setiap kata selalu memberi warna kebohongan
Aku semakin tak percaya pada kalian
Maka aku setuju: Bubarkan DPR!***

Denpasar,  30 Oktober 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU