KUCARI WAJAHMU
Aku ingin
pulang
Untuk menghitung lagi
Seribu pohon lontar
Yang semakin menua
Aku ingin mencari wajahmu
Yang masih tersangkut pada daun
Dan bekas dudukmu
Yang masih melekat di pelepah
Untuk menghitung lagi
Seribu pohon lontar
Yang semakin menua
Aku ingin mencari wajahmu
Yang masih tersangkut pada daun
Dan bekas dudukmu
Yang masih melekat di pelepah
Kutahu
pohon lontar di Malapedho
Masih bernas melahirkan mayang
Tempat mengalir bulir-bulir sari gula
Memberi kehidupan anak cucu
Menyimpan jejak kaki telanjang
Di saat subuh dan senja
Saat engkau meretas
Bunga-bunga mayang
Masih bernas melahirkan mayang
Tempat mengalir bulir-bulir sari gula
Memberi kehidupan anak cucu
Menyimpan jejak kaki telanjang
Di saat subuh dan senja
Saat engkau meretas
Bunga-bunga mayang
Aku ingin
pulang
Untuk menghitung lagi
Seribu lontar di atas gunung
Tempat engkau pernah mengajarku
Bagaimana menjadi penyadap nira
Meski sejarah pun berputar arah
Dan aku harus pergi ke kota
Meninggalkan engkau sendiri
Bersenandung dan bermain okulele
Sambil memasak nira menjadi arak
Untuk menghitung lagi
Seribu lontar di atas gunung
Tempat engkau pernah mengajarku
Bagaimana menjadi penyadap nira
Meski sejarah pun berputar arah
Dan aku harus pergi ke kota
Meninggalkan engkau sendiri
Bersenandung dan bermain okulele
Sambil memasak nira menjadi arak
Aku ingin
pulang
Mencarimu di pondok tuak
Duduk bersila di bale-bale
Meneguk moke
Mencicipi ubi bakar
Menikmati sambal kepiting
Merasakan kuah lawar siput laut
Sambil meresapi petuahmu
Tentang bagaimana bertarung
Dalam kehidupan
Mencarimu di pondok tuak
Duduk bersila di bale-bale
Meneguk moke
Mencicipi ubi bakar
Menikmati sambal kepiting
Merasakan kuah lawar siput laut
Sambil meresapi petuahmu
Tentang bagaimana bertarung
Dalam kehidupan
Aku ingin
pulang
Untuk rebahkan kepala
Pada pusaramu
Lalu mendesah: Bapa aku kangen
Ah, rasanya sudah terlalu lama
Engkau tak mau bersua denganku
Dalam bait-bait mimpi indah
Mungkinkah malam ini
Engkau akan datang dalam tidurku?
Aduh, aku benar-benar rindu.***
Untuk rebahkan kepala
Pada pusaramu
Lalu mendesah: Bapa aku kangen
Ah, rasanya sudah terlalu lama
Engkau tak mau bersua denganku
Dalam bait-bait mimpi indah
Mungkinkah malam ini
Engkau akan datang dalam tidurku?
Aduh, aku benar-benar rindu.***
Denpasar,
12 Juli 2015
Komentar
Posting Komentar