MALAPEDHO




Di Malapedho ketika sore ini
Matahari  bertengger di Ngalu Roga
Dan  puncak Inerie  belum beranjak
Di sini kampung  berlaksa  kenangan
Tentang hidup yang tidak sia-sia
Tentang sejengkal kenangan pengabdian
Pada  wajah-wajah muda belia
Tentang  secarik surat cinta
Kepada  jelita di sudut  lapangan
Tentang  ciuman pertama  bulan terang
Penuh getar ketakutan melanggar adat

Oh…Malapedho menjelang senja
Pesonamu  melingkar jiwa tualang
Meski  tak berhasil mengikat kaki dan tangan
Untuk mengasoh selamanya  di rahimmu
Tetapi  kupilih  batu padas kata-kata keramat
Untuk kudirikan sebuah monumen
Agar di puncaknya kuletakkan  syahadat
Bahwa  jengkal-jengkal tanah di batas desa
Tak akan  menjadi  tanah pertumpahan darah

Di Malapedho ini aku  tak ingin membisu
Ketika leluhurku mewariskan ladang pinggir pantai
Lalu hilang  dihempas gelombang  ketamakan
Akan kukumpulkan  sisa-sisa  darah  nenek moyang
Agar mereka  berkisah tentang kebenaran
Dan bila telah  tiba waktunya
Akan  kumainkan  musik tradisional
Mengumpulkan  kawanan yang berserakan
Menjadi pasukan  untuk merebut  hak warisan

Malapedho  aku mencintaimu
Seperti aku mencintai perempuan sudut lapangan
Di rahimmu  sejarah harus dipulihkan
Agar  masa depan  melahirkan peradaban santun
Anak-anak budaya yang menghargai
Jengkal-jengkal tanah dan siapa tuannya
Sebab  peradaban harus tumbuh sempurna
Agar anak pewarisnya  tak saling merampas
Atau berperang  demi harga diri leluhurnya.***
Malapedho menjelang senja, 11 November 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU