JEJAK SANG GURU




Hari ini aku rindu pulang
Ke tanah asal di lereng gunung
Mencari jejak guru-guruku
Pengabdi  anak-anak manusia
Di lereng gunung Inerie​
Adaikata aku punya sayap
Aku akan terbang  menyinggahi pusara-pusaramu
Mencabut rumput liar
Mereceki air bening Waetena di kuburmu
Mata air yang pernah engkau teguk
Di rentang pengabdianmu

Kutahu pusaramu merana
Tanpa lentera yang terus menyala
Engkau pulas tidur panjang
Di rumah beratapkan  sampah
Sebab  anak cucumu tak lagi datang sekedar berziarah
Dan bekas muridmu telah pergi ke mana-mana
Berbatas jarak  berhasta-hasta

Hari ini aku rindu pulang
Ke jantung kota Bajawa
Di rahim Sanjaya yang hilang
Ingin kulukis wajah-wajahmu
Pengabdi selaksa  anak daerah
Menikmati  senyummu
Dan merasakan lototan matamu
Ketika aku masih bodoh
Dan tekun mendengar saat kau mengajarku
Agar aku menjadi anak manusia

Aku rindu menapak lagi
Jalan setapak Wolonio
Memijak kaki di SPGN Woloare
Meski  kini tinggal kenangan
Tempat setahun aku menimba ilmu
Ingin bertemu dengan guru-guruku
Wajah-wajah yang tak pernah lelah
Mengantar  anak manusia ke medan laga
Menjadi pendidik anak-anak bangsa

Aku terkenang SPGK Don Bosco Maumere
Mengingat  sosok guru-guruku
Memungut cucuran keringatnya
Untuk kususun menjadi monumen
Tempat kutahtakan  piagam penghargaan
Karena  aku tak mampu memberi kado
Di ulang tahun profesimu
Kukenang  wajah guru-guruku
Di kota sejarah masa silam Madiun
Wajah para dosen yang tak lelah
Membagi ilmu dan pengalaman
Hari ini kutulis  puisi ini
Untuk sebuah penghargaan
Bahwa  aku  menjadi anak jaman
Karena  kalian  tulus mengabdi
Selamat Hari Guru kepada selaksa Guru.***

Denpasar, 25 November 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU