PELUKIS TUA
Tubuhmu kian sepuh
Tapi jiwamu makin kekar
Kau sentuh dunia yang kelu
Dengan seluruh jiwa ragamu
Mengajarkan arti kehidupan
Kepada selaksa anak negeri
Yang kini tak lagi punya rasa peka
Tentang apa arti hidup
Dalam satu dunia yang sama
Kau tuangkan rasa gundahmu
Ke atas kanvas dengan ujung jarimu
Memotret wajah anak negeri yang buram
Yang menoreh sejarah dengan darah
sesama
Lalu kau katakan:
Aku mau mencipta lukisan sebesar dunia
Agar semua orang dengan mudah melihat
Lalu belajar tentang bagaimana membangun rasa
Karena di negeri ini rasa mulai hilang
Berganti dengan nafsu memangsa sesama
Aku melihat jari-jarimu
Gemetar menuang cat air warna-warni
Pada tanah datar pulau Dewata
Dan pada gelombang bumi Nusantara
Lalu kau katakan:
Aku ingin melukis di atas laut
Pada danau-danau dan sungai-sungai
Dan pada semua lekak-lekuk tanah leluhur
Agar anak-anak negeri kita
Dapat menikmati kelembutan
Dan merasakan kedamaian
Sepanjang mengayuh biduk kehidupan
Matamu yang kian mengabur
Kau topang dengan kaca pembesar
Dan kau menyusun bait-bait suci
Pada setiap sudut rasamu
Dan kau katakan:
Anak-anak negeri kita sudah pintar
Menguasai ilmu dan teknologi
Mengemban banyak jabatan
Tapi banyak yang tak punya rasa
Sehingga tak malu menjadi srigala
Bagi sesamanya
Kutangkap seutas harapmu
Pada negeri seribu pulau
Dan kudengar lecut jiwamu
Pada anak satu bangsa
Kutahu kau mau mewariskan pesan
Bahwa yang kurang di negeri ini
Adalah hati yang punya rasa kemanusiaan
Yang masih harus dibenahi.***
Denpasar, 1 September 2015
Kepada Pelukis di Kemenuh
Komentar
Posting Komentar