TIGAPULUH SEPTEMBER





Tigapuluh September
Ah…aku masih melihat matahari
Setia mengitari langit negeri
Dari timur  ke barat
Tetapi entahlah  limapuluh tahun lalu
Adakah matahari ikut meratap
Ketika negeri  dibalut  duka
Dan darah para jenderal   berceceran
Jasad-jasad berbalut lumpur di lubang buaya
Dan tulang belulang berjuta rakyat tak berdosa
Diremuk tanpa keadilan  hukum anak negeri

Kisah  penculikan dan pnangkapan
Ah…sejarah sudah berlalu
Limapuluh tahun  telah terbang
Melintas  tanah ibu pertiwi
Sejarah pun telah tertoreh
Kisah-kisah heroik  telah diwariskan
Cerita-cerita  miris  dilantunkan
Dan  anak-anak bangsa diajarkan
Mencemooh kebrutalan  sebuah partai
Pengagum  palu dan arit

Sejarah  menggiring  anak bangsa
Ke pelaminan  penuh dendam
Pesta  kedengkian  terus berlanjut
Antek-antek diseret dan dibunuh
Petani miskin  ditangkap dan dipenjara
Seniman  dibekap dan mati di tiang  gantung
Sejuta rakyat  disingkirkan ke pulau Buru
Dan setiap detik mereka menerima hukuman
“Kamu dan keturunanmu pengkhianat  bangsa”

Limapuluh  tahun  jalan sejarah terbentang
Melintasi  negeri  khatulistiwa
Berjuta saksi  mata berkisah tentang apa yang seharusnya
Dan  berjuta keluarga  mencari pusara kerabatnya
Entah  dimana  tulang belulang mereka disembunyikan
Yang tak juga ditemukan
Ingin menabur bunga sebagai pengganti air mata
Yang belum kering  sampai detik terakhir

Masih adakah saksi sejarah
Yang  tahu  apa  yang seharusnya  diwariskan?
Katakanlah  kepada anak-anak bangsa
Agar  kami tidak tumbuh seperti rumput liar
Yang  mewariskan  dendam kesumat
Beri  kami sejarah yang tulus
Agar  kebenaran  menjadi kehidupan yang layak
Beri kami  sejarah yang benar
Agar  kami tak terus menerus mewariskan lagi
Sejarah penuh kebohongan***

Denpasar, 30 September 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU