KEPADA YANG TERHORMAT BAPA PRESIDEN
Bapak Presiden yang terhormat
Jangan marah jika aku terpaksa menulis surat ini
Ini bukan surat cinta
Juga bukan untai kata sanjungan
Tidak juga himpunan kata cacian
Sama sekali tidak bapak Presiden
Ini cuma kepingan-kepingan rintih jiwa
Yang semakin terhimpit oleh bencana tanah negeri
Dan lama tak ada jalan keluar
Kecuali ratapan atas kematian jiwa dan raga
Yang semakin mendera dan kurasakan memberat
Jangan marah jika aku terpaksa menulis surat ini
Ini bukan surat cinta
Juga bukan untai kata sanjungan
Tidak juga himpunan kata cacian
Sama sekali tidak bapak Presiden
Ini cuma kepingan-kepingan rintih jiwa
Yang semakin terhimpit oleh bencana tanah negeri
Dan lama tak ada jalan keluar
Kecuali ratapan atas kematian jiwa dan raga
Yang semakin mendera dan kurasakan memberat
Bapak presiden yang terhormat
Aku bukan pejabat tinggi juga bukan wakil rakyat
Aku bukan konglomerat juga bukan pemilik modal
Aku hanya pemulung kata
Yang tak pandai meratap dengan air mata
Kecuali dengan ungkapan rasa
Dalam barisan kalimat tanpa asap
Dan seribu kata tanpa ceceran darah dendam
Maka kutulis surat ini dengan cinta kasih
Yang diwariskan Sang Guruku
Agar engkau memahami isi hati
Sejuta rakyat yang senasib terkepung derita
Aku bukan pejabat tinggi juga bukan wakil rakyat
Aku bukan konglomerat juga bukan pemilik modal
Aku hanya pemulung kata
Yang tak pandai meratap dengan air mata
Kecuali dengan ungkapan rasa
Dalam barisan kalimat tanpa asap
Dan seribu kata tanpa ceceran darah dendam
Maka kutulis surat ini dengan cinta kasih
Yang diwariskan Sang Guruku
Agar engkau memahami isi hati
Sejuta rakyat yang senasib terkepung derita
Bapak presiden yang terhormat
Aku tahu engkau tidak di istana sekarang
Engkau sedang melawat ke negeri tuan Barrack Obama
Aku dapat merasakan getar dawan pertemuanmu
Dengan presiden negeri adidaya itu
Dan dengan para pengusaha papan atas
Dengan para anak cucu Paman Sam
Aku tidak tahu apa yang engkau tawarkan
Tapi tolong Pak Presidenku
Jangan tawarkan kulit bumi pertiwi kita
Untuk ditikam dan dilumat isi perutnya
Demi butir-butir emas berlian
Karena demi butir emas berlian itu
Sejuta anak sesama bangsa bertemu ajalnya
Di moncong senjata
Aku tahu engkau tidak di istana sekarang
Engkau sedang melawat ke negeri tuan Barrack Obama
Aku dapat merasakan getar dawan pertemuanmu
Dengan presiden negeri adidaya itu
Dan dengan para pengusaha papan atas
Dengan para anak cucu Paman Sam
Aku tidak tahu apa yang engkau tawarkan
Tapi tolong Pak Presidenku
Jangan tawarkan kulit bumi pertiwi kita
Untuk ditikam dan dilumat isi perutnya
Demi butir-butir emas berlian
Karena demi butir emas berlian itu
Sejuta anak sesama bangsa bertemu ajalnya
Di moncong senjata
Bapak Presiden yang terhormat
Aku tahu negeri kita perlu kerjasama antar bangsa
Tapi tolong Pak Presiden
Jangan gadaikan Celebes demi minyak sawit
Jangan jual Borneo demi tambang minyak
Jangan jual Papua demi tambang emas
Kalau ternyata rakyatmu harus menuai derita
Dan menjadi budak di tanah airnya sendiri
Kalau ternyata bangsa ini hanya mendapat remah
Dari berbakul roti yang dibawa pulang ke negeri mereka
Aku tidak sudi pak Presiden
Karena aku salah satu pemilik negeri ini
Yang harus pak Presiden dengarkan
Sekecil apapun kedudukanku
Aku tahu negeri kita perlu kerjasama antar bangsa
Tapi tolong Pak Presiden
Jangan gadaikan Celebes demi minyak sawit
Jangan jual Borneo demi tambang minyak
Jangan jual Papua demi tambang emas
Kalau ternyata rakyatmu harus menuai derita
Dan menjadi budak di tanah airnya sendiri
Kalau ternyata bangsa ini hanya mendapat remah
Dari berbakul roti yang dibawa pulang ke negeri mereka
Aku tidak sudi pak Presiden
Karena aku salah satu pemilik negeri ini
Yang harus pak Presiden dengarkan
Sekecil apapun kedudukanku
Bapak Presiden yang terhormat
Kalau kembali ke negeri kita
Bawalah kami oleh-oleh
Yang membuat bangsa kita berdiri di atas kaki sendiri
Tanpa harus berhamba pada negeri lain
Jangan bawa predator-predator
Yang mengisap manisnya madu
Jangan bawa kami penguras kekayaan bumi
Karena anak cucu kita masih perlu diwariskan
Negeri dengan wajah yang mempesona
Kuat dan bermartabat serta disegani
Di tengah persaingan bola bangsa dunia
Kalau kembali ke negeri kita
Bawalah kami oleh-oleh
Yang membuat bangsa kita berdiri di atas kaki sendiri
Tanpa harus berhamba pada negeri lain
Jangan bawa predator-predator
Yang mengisap manisnya madu
Jangan bawa kami penguras kekayaan bumi
Karena anak cucu kita masih perlu diwariskan
Negeri dengan wajah yang mempesona
Kuat dan bermartabat serta disegani
Di tengah persaingan bola bangsa dunia
Bapak Presiden yang terhormat
Kusudahi surat ini dengan hentak nafas penuh harap
Ketika bapak kembali ke kampung nusantara
Bapak sudah tahu bagaimana memusnahkan asap
Dan menegakkan keadilan dan kebenaran
Agar negeri kita damai selamanya
Dan mengentaskan kemiskinan
Agar rakyatmu sejahtera lahir dan batin
Kuharap bapak presiden membaca surat ini
Salam hormat dari rakyatmu.***
Kusudahi surat ini dengan hentak nafas penuh harap
Ketika bapak kembali ke kampung nusantara
Bapak sudah tahu bagaimana memusnahkan asap
Dan menegakkan keadilan dan kebenaran
Agar negeri kita damai selamanya
Dan mengentaskan kemiskinan
Agar rakyatmu sejahtera lahir dan batin
Kuharap bapak presiden membaca surat ini
Salam hormat dari rakyatmu.***
Denpasar, 26 Oktober 2015
Komentar
Posting Komentar