DI JALAN PENYEPIAN
Di jalan penyepian aku mengayun
rasa haru biru
Bertanya pada kedalaman hati
Mengapa Engkau hanya menyepi di Taman Getsemani
Ketika Engkau tahu serdadu-serdadu
yang bengis
Akan datang merajam-Mu?
Di jalan penyepian-Mu aku
menyusuri jalan imanku
Bertanya dalam ketakmengertianku
Mengapa menjelang penderitaan-Mu
Engkau hanya menyepi di Getsemani
Dan tak hendak menyembunyikan
diri-Mu?
Di jalan penyepian-Mu ke Getsemani
Engkau berdoa dalam kepasrahan
Membiarkan keringat darah menetes
dari tubuh-Mu
Dan berseru: Biarkan piala ini
berlalu
Tapi bukan kehendak-Ku melainkan
kehendak-Mu yang terjadi
Jalan penyepian-Mu ke Getsemani
Adalah jalan menuju penderitaan
Karena dari Getsemani Engkau
memanggul salib
Berjalan dalam kemanusiaan-Mu
menuju Kalvari
Dari Getsemani jalan penyepian-Mu
berubah
Menjadi jalan korban yang kudus
Engkau korbankan tubuh dan darah-Mu
Untuk silih berjuta
dosa hamba-
hamba-Mu
Dari Getsemani Engkau biarkan
raga-Mu
Dirajam tanpa batas
Membiarkan pribadi kemanusiaan-Mu menanggung derita
Dan membiarkan pribadi-Mu
sebagai Allah
Disesah, dihina, dicemooh dan
dilaknat
Dan Engkau tak membalasnya
Tuhanku, ajarlah aku mencari jalan
penyepian
Menjauh dari kubangan
dosa dan
kemunafikan
Terus bergerak menuju kehendak-Mu
Agar kemanusiaanku yang rapuh ini
Tak
dimusnahkan oleh angkara dosa
Di jalan penyepian-Mu ke Getsemani
Dan di jalan korban-Mu ke Kalvari
Aku
labuhkan harapan
Untuk Engkau bersihkan noktah
Tuhan, jadikan aku tahir dari
dosa.***
Denpasar, 13 Maret 2018
Komentar
Posting Komentar