NYANYI SUNYI DI MAGHILEWA
Maghilewa bertengger di
lereng gunung
Di sini dari seribu tahun silam
Leluhur-leluhurku menabur
benih
Menumbuhkan anak cucu turunan
Menjadi pewaris sejarah kehidupan
Yang beranjak dari generasi ke
generasi
Dengan kisahnya sendiri
Lahir dan hidup lalu mati
Tetapi kehidupan tak pernah
berakhir
Dalam urutan kehendak Sang
Khalik
Seribu tahun adalah sejarah
Yang berpindah dari waktu ke
waktu
Dengan kisahnya sendiri
Tertulis dalam mantra-mantra
Maghilewa berdiri megah di
tanah bertuah
Lahir dalam upacara-upacara
sakral
Perjanjian darah hewan korban
Bahwa kesuburan itu abadi
Sampai saat ini
Jasad-jasad leluhur
terkubur
Pada tanah tumpah darah
Di kandungan tanah perjanjian
yang diwariskan
Tetapi arwah-arwah tetap hidup
Mengisahkan kebesaran
akhlak
Tentang mencintai kehidupan
Bersekutu tanpa peperangan
Tertulis pada buku-buku alam
Di mesbah-mesbah persembahan
Pada tiang-tiang sa’o meze
Dan pada atap alang-alang
rumah adat
Potret leluhur yang tetap
hidup
Mesbah persembahan di
tengah kampung
Adalah wadah memberi penghormatan
Agar leluhur hadir pada setiap
perhelatan
Ngadhu-Ngadhu tegak berdiri
perkasa
Adalah sosok yang tak
pernah mati
Bhaga-Bhaga tertanam
membumi
Adalah potret rahim perempuan
Yang melahirkan anak cucu
turunan
Pada setiap kisah jaman
Yang selalu ramah padanya
Ture-ture batu tebing
Berjejer dari gunung ke laut
Loka-loka tanah merah tanpa
jemuran
Meski rumah-rumah adat tetap
berakar
Masih berjajar dari utara ke
selatan
Teda sa’o tanpa penunggu
Kalingate tanpa jejak kaki
Perempuan pemintal benang telah
hilang
Sentakan penenun telah lenyap
Dan angin menebar bau nafas nenek
moyang
Mengidungkan mantra-mantra bumi
Yang menggugat sunyi di
Maghilewaku.***
Maghilewa, 12 November 2015
Sa’o meze=rumah besar/rumah adat
Ngadhu-Ngadhu=lambang leluhur
laki-laki
Bhaga-Bhaga=lambang leluhur
perempuan
Ture-ture=batu-batu disusun
berjejer membentuk undakan di sebuah kampung
Loka-loka=halaman di tengah
kampung
Teda sa’o=bagian luar rumah adat
Kalingate=halaman rumah adat
Komentar
Posting Komentar