SENANDUNG NOVEMBER
Ebu (nenek) aku tak bisa
pulang
Bertandang ke halaman rumah
adat
Merunduk kepala di pusaramu
Melantunkan doa-doa lamentasi
Sebab telapak kakiku terlalu kecil
Untuk sekali mengayunkan langkah
Melewati gunung dan bukit
Menyusuri samudera luas
Dari pulau para Dewa
kuselipkan untai doa
Pada namamu: Ebu Monika Moi
Istirahatlah dalam damai
Ema (bapak) aku tak bisa
pulang
Bertandang ke kampung abadimu
Di bawah rindang
ranting-ranting cengkeh
Pada tanah kuburan samping gereja
tua
Mencabut rumput liar di puasaramu
Sebab aku tak punya cukup
sayap
Untuk terbang seperti
burung pergam
Dari tanah rantau kukenangmu
Lelaki kekar pejuang
kehidupan
Penakluk seribu batang lontar
Dari pulau para dewa kuselipkan
litany doa
Pada namamu: Arnoldus Deghe
Istirahatlah dalam damai
Ine (ibu) aku tak bisa pulang
Berziarah ke istana kekalmu
Di bawah lambai nyiur lereng
gunung
Pada tanah datar
pusara-pusara leluhur
Untuk menyapu daun-daun
kemiri di kuburmu
Sebab aku tak punya kuasa
Mendirikan jembatan titian dari
pelangi
Aku rindu harum nafasmu
Berbaring di pangkuanmu
Dan tanganmu membelai rambutku
Dari pulau para dewa kutitip
untai doa
Pada namamu: Fransiska Wula
Istirahatlah dalam damai
Pame (paman) aku tak bisa
pulang
Menyapu embun kota di
peristirahatanmu
Di depan rumah Ngedukelu
kota dingin
Membersihkan tanah liat di
pusaramu
Menulis puisi tentang ketulusanmu
Yang memberiku cinta tanpa
pamrih
Membagi kasihmu tanpa takaran
Aku rindu suaramu di pagi hari
Rindu menggoreng jagung
Menumbuk di lesung menjadi tepung
(wu’u)
Rindu suaramu yang meneduhkan
Dari pulau para dewa kutitip
untai doa
Pada namamu: Philipus Siku
Istirahatlah dalam damai
Pine (tanta) aku tak bisa pulang
Membersihkan bekas-bekas
lilin di pusaramu
Bertandang ke rumah abadimu di
Waewoki
Di bawah kemilau bunga dadap
Dan siraman harum bunga
kopi Arabica
Pada gemerecik batang-batang
bambu
Aku rindu jari-jarimu yang
menghitung tasbih
Mendoakan anak-anak di negeri
rantau
Dari pulau para dewa kutitip
untai doa
Pada namamu: Bernadeta Naru
Istirahatlah dalam damai
Kepada pendahulu di makam
Randusari Wonosari
Dan orang-orang yang
kucinta di Maghilewa
Orang-orang tercinta di tanah
Mborong
Kepada yang kukenang di di makam
Maumere
Dan kekasih-kekasih
di pemakaman Ende
Kepada para Bapa Uskup dan imam
di makam Palasari
Dan kepada saudara seiman yang
telah berbahagia di surge
Dari pulau para dewa kutitip
untai doa
Pada namamu yang selalu kukenang
Istirahatlah dalam damai***
Denpasar, 2 November 2015
Hari Peringatan Arwah yang telah
meninggal
Komentar
Posting Komentar