CATATAN DI KAMPUNG SUNYI




Sekarang aku benar-benar bercumbu denganmu
Kampung warisan leluhur
Pada ritual darah hewan korban
Mendengar bacaan pesan di lembar hatinya
Dan nujum pada serat-serat uratnya
Lelaki perkasa berbalut pakaian adat
Meneriakkan mantra-mantra magis
Menghidupkan kembali roh leluhurku
Yang telah lama pulas dalam tidur panjang

Tetapi mengapa kampungku makin sunyi
Ketika dentang gong bertalu-talu
Mengiringi gerak kaki perempuan
Yang menari mengelilingi Ngadhu?
Mengapa kampungku senyap
Ketika suara kendang gegap gempita
Mengiringi liukan tubuh lelaki
Yang menari di terik mentari?

Aku rindu masa kecil
Di gerbang kampungku
Beringin berdahan kokoh
Pada ranting-ranting hijau
Bertengger seribu sarang
Dan burung-burung bermigrasi
Mengasoh sejenak
Lalu bersiul merdu
Menghadirkan nyanyian alam

Ini kampungku kian sunyi
Dari celoteh mahluk alam
Aku tak menemukan lagi
Burung gagak hitam melintasi kampung
Bertengger di atas atap rumah adat
Bermain ayunan di ujung beringin
Tak ada lagi gerombolan okakoa
Bersiul memecah kampung senyap
Tak ada lagi bopo dan zawa
Memainkan tarian di daun beringin perkasa
Dimanakah mahluk-mahluk itu?

Aku rindu menikmati celotehan burung pergam
Yang menyambut matahari senja
Mengepak sayap mencandai langit di atas kampungku
Rindu kepak sayap kakatua berbulu putih
Bertengger di bulir-bulir jagung
Tanpa takut terusik nafas manusia
Karna mereka tahu apa arti keramahan
Manusia dengan alamnya

Sekarang semuanya musnah
Hilang lenyap
Mahluk-mahluk mungil menemui ajalnya
Pada moncong senapan angin para pemburu liar
Yang dengan bangga menjadikannya sahabat
Untuk membunuh mutiara buminya sendiri
Entah sampai kapan
Kejahatan pada alam berakhir
Dan mahluk kecil di langit merayakan kemerdekaannya.***
Denpasar, 20 Agustus 2015
Refleksi 1-11 Juli 2013 di Kampung Maghilewa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU