KEPADA SALIM KANCIL




Di Selok Awar-Awar engkau meregang nyawa
Ketika panggilan nuranimu membara
Saat engkau mempertahankan alam titipan Sang Khalik
Yang  dirampas oleh kekuatan uang
Dan diincar para pemburu harta
Yang  rakus dan tamak

Pasir di Pasiran adalah milik selaksa rakyat
Yang dijarah oleh  cukong-cukong pendatang
Kau  pertahankan  dengan taruhan nyawa
Agar anak cucumu  tak terbelenggu  derita
Kau  adalah petarung sejati
Yang tak surut  pada ancaman kematian


Engkau pejuang  lingkungan
Yang  tiada henti berseru-seru
Agar  penjarahan pasir dihentikan
Engkau  pejuang tanpa  senjata
Yang  mengandalkan  keberanian
Dan kata  hati pencinta bumi
Engkau kibarkan bendera  peduli desa
Dan para gerombolan tamak menjadi garang
Kau tetap teguh berdiri  tak tergoyahkan di Pasiran

Sabtu  duapuluh sembilan September
Hari kelabu  engkau lalui
Ketika  matahari  menerpa  bumi Lumajang
Kau  dijemput dari  rumahmu
Karena kau  dianggap batu kilang penghalang
Bagi para pemburu  kehidupan  yang berwatak binatang
Mereka melumatmu hingga remuk tulang belulangmu
Dan berakhir detak jantungmu

Di balai desa Selok Awar-Awar
Rumah rakyat yang seharusnya  nyaman
Engkau  dirajam  seperti penjahat
Tak ada aparat  desa
Tak ada aparat keamanan
Hanya rakyat yang menyaksikanmu dengan mulut bisu
Tak mampu membelamu karena mereka punya jiwa yang kerdil


Selamat  jalan Salim Kancil
Kuharap  suatu saat  Kapolri  datang ke Pasiran
Bukan untuk menangkap para pelaku
Tetapi untuk bersiarah ke kuburmu
Sebagai ungkapan belasungkawa
Atas matinya kemanusiaan di negeri  ini
Dan  hilangnya perlindungan kepada kaum kecil

Beristirahatlah dengan damai Salim Kancil
Kuharap  suatu saat Presiden datang ke Pasiran
Tidak untuk kunjungan kerja
Tetapi  untuk menjenguk istri dan anak-anakmu
Yang menderita kehilangan soko gurunya
Karena  mereka  akan  melalui hari-harinya
Dalam kesepian  lahir dan batin.***

Denpasar, 29 September 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU