GORESAN PENA DI KOTAKU
Kotaku pada
hangat matahari
Tak ada segenggam awan
putih
Kemarau belum beranjak
Belum pasti akan berakhir
Merindu hujan turun membasah bumi
Dalam litania doa
Dan mantra-mantra warisan leluhur
Jalanan kota masih kering
Bunga dadap belum mekar
Daun advokat berguguran
Rumput liar kering kerontang
Dan anak-anak berseragam
Menyusuri jalan aspal hitam
Sambil menyeka keringat di
pelipisnya
Di pinggir jalan kota
Mobil angkutan menanti penumpang
Tak ada lagi terminal kota
Karena sudah disulap jadi pasar
rakyat
Uge-uge*) menawar dagangan
Potret wajah-wajah pejuang
kehidupan
Sambil menginang sirih
pinang
Dan meludah ke tanah
gersang
Berdoa untuk kesuburan
Di sebuah warung sudut
pasar rakyat
Amekae*) meneguk tuak
Sambil berkidung Seu Azi*)
Dan berbagi
kata-kata mantra
Menjelang pesta anak
tanah
Menyongsong kompetisi
Tiga pasang petarung
sejati
Padi, Konsep dan Mulus
Ah…ujung penaku menangkap aura
Wajah rakyat yang tulus
Tanpa kata-kata laknat
Karena mereka hanya mengerti
Apa arti memilih
Setelah itu menunggu masa
jedah
Sambil menggembur tanah
Karena musim tanam pasti
selalu datang.***
Bajawa, 11 November 2015
*) Amekae = laki-laki
Finegae = Ibu-ibu
Seu Azi = Senandung meninabobo anak
*) Amekae = laki-laki
Finegae = Ibu-ibu
Seu Azi = Senandung meninabobo anak
Komentar
Posting Komentar