RINDU REBA DI KAMPUNG





Seharusnya malam ini
Aku ada di rumah leluhur
Duduk melingkar beralas tikar
Disepuh sinar lampu petromaks
Dipapar asap api menembus atap ilalang
Disergap aroma rokok para lelaki
Dan dari bara kayu bakar lika lapu
Menyebar aroma  bulu ayam upacara
Tanpa  perlu mengusik keadaban

Seharusnya  aku ada di sana
Pada  malam  dheke reba
Ritual pembuka pesta syukur
Untuk pernak-pernik kesuburan
Melafal  mantra pesan  sejarah
Menyusuri tapak kaki leluhur
Melintas  setengah dari dunia
Darimana  leluhuru datang
Dan mendiami  kampung
Membangun peradaban

Seharusnya  inilah malam  yang dinanti
Mendengar wejangan-wejangan
Dari kearifan  tetua
Yang  diwariskan  dengan harta batiniah
Untuk  mengajar para anak cucu
Tentang  cara hidup berakhlak
Menerima  curahan rahmat dari langit
Dengan jiwa yang merdeka
Namun dengan pijakan kaki yang kokoh
Pada pilar  adat budaya warisan nenek moyang

Ah, aku rindu malam ini
Ada di sa’o  meze
Bersendagurau  dalam  kesederhanaan
Mencicipi maki reba  yang gurih
Dan meneguk moke yang menyengat
Dari se’a  tua yang sama
Akrab dalam persaudaraan
Satu  dalam kekerabatan
Berjaga  sepanjang malam
Menyambut esok  untuk pesta reba
Dalam hentakan  asmara cinta manusia

Maafkan aku…
Untuk  kesekian kalinya
Aku tak bisa  datang
Tetapi  rinduku  di teda sa’o
Jiwaku di mataraga
Hasratku  di kalingate
Dan cintaku mengisi  semua ruang
Di rumah  adat milik kita bersama
Satu waktu  aku  akan benar-benar ada
Untuk menulis kata-kata  cinta
Para pengabdi warisan budaya.***

Denpasar, 26 Desember 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU