KETIKA AKU BERPELUK DHARMA




Butir-butir dharma telah kita genggam
Untuk bekal di perjalanan
Menuju nirwana
Seharusnya tak ada lagi episode
Tentang darah dan air mata
Tentang torehan luka
Pada jiwa sesama ciptaan
Karena kita telah dilahirkan
Dengan jiwa baru

Tapi ini bumi selaksa anak
Ada senyum palsu adharma
Menidurkan sejuta perindu
Pada singgasana bertabur berlian
Dengan cahaya menyilaukan
Oh, taring-taringnya itu siap menerkam
Dan kuku-kuku panjang siap mencakar
Jiwa-jiwa yang merana

Kita sedang bertarung di medan perang
Senjata kita bukan tombak dan pedang
Bukan rentetan peluru berdesing
Atau hentakan meriam menghancurkan
Senjata kita adalah dharma
Memancar dari jiwa yang bersih
Mengalir dari iman yang teguh
Tumbuh dari alur cinta
Dan pengabdian

Kita masih terus melangkah
Pada titian siarah yang melelahkan
Jalan masih panjang
Melewati kelok dan terjal
Penuh onak dan duri
Ada mata raksasa meneropong
Dengan gigi gemeretak mengunyah belulang
Jangan takut karena kita sudah siap bertarung
Melesatkan anak panah dharma
Yang memberi kemenangan

Kita sedang menuju nirwana
Entah kapan akan sampai
Mungkin setelah ini
Atau saat matahari terbenam
Mungkin esok saat matahari terbit
Kita belajar menjadi laskar kebenaran
Dan menulis syair kehidupan
Dalam kebaikan akal budi
Bersujud pada Sang Hyang
Bersimpuh di kakiNya yang mahasuci

Bumi kita penuh rona
Ada hitam dan putih
Kebaikan dan keburukan
Tapi kita tak perlu takut
Karena dharma menyelusup
Dan mengelilingi seluruh yang ada
Yang utama dan rahasia
Yang dicari dengan ketulusan hati
Tuhanku ajari kami makna dharma
Agar kami melakukan kehendakMu.***
Denpasar, 15 Juli 2015
Pada Hari Raya Galungan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU