INERIE YANG JELITA

Tubuhmu kekar menjulang  menopang langit
Bidadari  kokoh di goresan waktu
Ketika  tahun berganti dan generasi berlalu
Kau ada di sini
Setia mengisahkan  legenda
Kisah cinta  berlumur darah
Cemburu Ebu Lobo dan  Mandasawu
Dan Jaramasi mengawalmu
Mungkin sampai hari ini

Menghadap ke kota utara
Kau hipnotis sejuta tatap
Dengan butir-butir pasir  coklat
Dan rerumput  gersang
Batu hitam  mengalir dari puncakmu
Menyatu di Wae Rongo
Tempat legenda Ngora Segu
Dan bu’e pare berserah diri
Untuk tumbuh menjadi bulir padi
Memberi makan  anak cucu

Padang gersang di Wae Rongo
Menyimpan kisah masa silam
Ketika umat manusia menertawakan anjing
Dan kiamat terjadi seperti Sodom dan Gomora
Manusia berlarian ke bukit-bukit
Menjadi watu Meze dan Watu Dake
Menjadi Watu Dhidi Laba
Legenda masa lalu
Yang membuatmu semakin sakral

Menghadap ke selatan
Engkau menantang debur ombak laut Sawu
Menjulur kali kering tanpa air
Meniupkan angin gunung menyejukkan
Mencumbui daun nyiur melambai-lambai
Menggemeresikkan  pelepah lontar
Membocorkan mata air Wae Tena
Oase yang membuat leluhurku tak pernah dahaga
Dan bilur  Wae Guru yang tak pernah kering
Meski didera kemarau panjang

Aku bangga pada hutanku
Melingkar tubuh kekarmu dari Wae Guru hingga Wae Sewa
Pohon eukaliptus menjulang
Dengan akar menancap pada bumi
Dan tangan-tangan leluhur yang berladang
Kau bataskan dengan respal
Agar hutan lestari selamanya
Perjanjian manusia dengan alam
Yang seharunya tak boleh dikhianati

Leluhurku orang-orang setia padamu
Kaki-kakinya enggan melanggar respal
Tancapan pacul dan tofa selalu ada batasnya
Meski mereka buta huruf tak tahu baca dan tulis
Leluhurku generasi taat
Karena tahu alam adalah rahimnya
Dan mereka tahu bagaimana mewariskan
Kepada anak cucunya


Kini kau adalah Inerie yang terluka
Oleh mata parang  dan ujung tofa
Hutan di lerengmu  kian punah
Berganti dengan batang-batang kakao
Karena generasi masa kini tergiur oleh lembar rupiah
Yang dikibas-kibaskan oleh para tengkulak
Yang hanya memanen tanpa menanam

Mungkin suatu waktu nanti
Hutan di tubuhmu gundul
Dan kau akan bangkitkan amarahmu
Mengalirkan  batu dan lumpur
Menguburkan seluruh kehidupan di pantai selatan
Bencana pantai selatan
Salah siapa?

Pak Bupati, Pak Camat Pak Kepala Desa
Hentikan perambahan hutan Wae Guru Wae Sewa
Biarkan pohon-pohon liar tumbuh bebas
Agar generasi setelah kita
Masih bisa merasa bangga
Bahwa leluhurnya tau mewariskan alam
Yang bersahabat dan menyejukkan
Ini untuk masa depan bumi
Bukan untuk kau dan aku
Tapi untuk generasi yang kau lahirkan.***


Denpasar  21 Agustus 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU