SUARA FATWA



Jika engkau masih punya dua telinga
Yang tidak dijejali karatan tahi tuli
Kau pasti mendengar suara jeritan lapar dan haus
Dari gerobak-gerobak kumal
Dari tenda-tenda telanjang bawah kolong jembatan
Dari gubuk-gubung karton di pinggir rel kereta api
Jerit mereka yang tak punya tumpangan
Yang menangisi gubug yang roboh digusur buldoser
Diruntuhkan tangan-tangan penertib kota

Jika telingamu masih waras
Kau pasti mendengar
Suara berjuta rakyat yang meratap
Di tengah negeri yang gagal memeratakan keadilan
Suara ratap para jelata yang tidur di kolong langit
Dan bercinta di antara gedung pencakar langit
Basah kuyup oleh genangan air cucian
Yang mengalir dari rumah-rumah mewah
Dan mereka yang membalut lubang hidung dengan telapak tangannya
Sekedar untuk mengusir bau tengik sampah
Yang dibuang oleh orang-orang kaya

Jika telingamu masih sehat
Kau pasti mendegar suara keluh berjuta orang sakit
Yang tak bisa membayar rumah sakit mewah
Mereka yang terpaksa menunggu kematian
Di rumah-rumah tanpa jendela
Berbaring pada alas tikar tua
Pada lantai tanah berdebu dan kusam
Mereka yang terpaksa tidur di lorong-lorong rumah sakit negara
Karena mereka tak punya biaya

Jika kedua bola matamu tidak buta
Kau pasti melihat sesama anak bangsamu ini
Yang masih berjuta melarat dan terkapar
Hidup dalam lingkaran kemiskinan
Seharusnya kau ciptakan suara kenabian
Untuk mengangkat orang-orang kecil
Ke anak tangga yang bermartabat
Bukan menciptakan fatwa-fatwa
Yang memisahkan umat dari keadilan.***

Denpasar, 3 Agustus 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU