SURAT KEPADA UMBU




Seribu kali aku bertemu denganmu
Pada bait-bait jiwamu
Yang berkelana di cumbuan sabana
Kau yang perkasa
Menunggang kuda saldle wood
Berlari di padang Humba
Dengan busur dan panah
Dalam debur darah para pasola

Bertemu denganmu
Pada deretan huruf-huruf
Yang membentuk seutas nama
Umbu Landu Parenggi
Aku bertemu denganmu
Pada namamu itu
Ketika usiaku duabelas tahun
Dan kau telah memanahku
Dengan air keramat jiwamu
Karna kau telah memahat bahasa hati
Di dinding-dinding rumah
Penyuka syairmu

Aku bertemu denganmu sejuta kali
Pada bumimu yang penuh misteri
Kau bersembunyi entah dimana
Dan aku seperti bajing melompat
Dari satu ranting ke ranting lain
Ingin menangkap bayangmu
Siapa tahu kau kebetulan lewat
Di lorong waktu
Yang selalu setia kujalani

Umbu Landu Parenggi
Di namamu aku menoreh sejarah
Ketika potongan-potongan jiwamu bertunas
Dan akar-akarnya melinggar di jiwaku
Menggerakkan jari-jariku
Memainkan sebatang pensil
Menari-nari di tanah gersang
Dan tumbuh benih-benih
Menjadi pohon puisi
Anak cucumu

Hari ini kudengar kau menoreh waktu
Mengenang saat kau seperti bintang
Jatuh dari langit di tanah Humba
Lalu tumbuh menjadi bunga jaman
Di tengah musim gersang tanah leluhur kita
Kau telah menjalaninya tujuhpuluh satu tahun
Dan satu episode di tanah dewata
Selamat ulang tahun pak Umbu
Engkau sebuah inspirasi anak negeri
Yang ingin mengabadikan sejarah dengan harta kata.***

Denpasar, 10 Agustus 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU