KETIKA AKU DI RUMAHMU




Ketika aku di rumahmu
Tak ada hentakan terompet reog
Tanpa detak-detak  angklung
Tanpa alunan  saronen Madura
Terhenyak dalam sunyi
Terhempas dalam sepi
Hanya ada angin laut Sawu
Menembus  atap rumah tetangga
Mencumbu kesunyian
Di tengah kota sejarah

Gerbang  yang selalu terbuka
Dan pintu yang tak terkunci
Kutahu jiwamu  ada di sini
Dengan tangan terentang
Menyambut  anak bangsa pesiarah
Sambil berteriak  sekeras dentum meriam
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Tumbuhkan benih-benih pejuang
Untuk harga diri tanah air ini
Dan engkau tidak sedang bermimpi


Rumahmu di  Kota Ratu
Menggores  wajah megahmu
Matahari siang pun menjadi sakral
Burung pipit bernyanyi di ranting pohon
Engkau  seperti bersemedi  di akar  Sukun
Menemukan titah ilahi
Yang  engkau wariskan
Untuk  anak negeri ini
Dalam ikatan temali  kearifan
Bernama pancasila

Oh, wajahmu  ada di seantero rumah ini
Di  kotak kaca  ruang tamu
Pada biola yang pernah engkau mainkan
Terlukis pada lembar sarung Samarinda
Terekam pada dulang dan alas kuningan
Kutahu  garis tanganmu  belum terhapus
Saat  engkau meyentuh piring nasi
Menggapai piring porselin dan piring hias
Cerek almunium dan kayu kliping
Engkau  masih hidup pahlawanku

Seperti engkau duduk di kursi kayu
Menyapaku dengan aura kharisma
Hai anak Flores
Berapa kali sudah kau bertandang ke sini
Sekedar  menyusuri jejakku
Bahwa  suatu  ketika di masa lalu
Aku baringkan tubuh di ranjang ini
Menimba air bening dari sumur belakang rumah
Menyiram tubuh di kamar mandi sederhana
Sebelum  melangkah ke rindang daun sukun
Ditemani tongkat kebanggaanmu
Menangkap  kata-kata penuh makna
Untuk   memayungi anak bangsa

Rumahmu di ruas jalan Perwira
Jendela yang tetap terbuka
Dan angin silih berganti
Menyusuri sudut ruang
Engkau telah pulang pahlawanku
Tapi hari ini  kau hidup
Karena aku masih anak bangsa
Dan selamanya  dalam dekapan Indonesia
Tanah leluhur kita
Bung Karno terimakasih  untuk sejenak singgah
Di tanah leluhurku, Flores.***

Situs Rumah Bung Karno, Ende, 10 November 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU