JALAN DAMAI



Hari ini kemarau
Daun-daun gugur
Sungai-sungai kering
Hujan tak turun
Mendung  menjauh dari ujung gunung
Awan kering berarak di langit
Angin bertiup hilir mudik
Kutahu jiwa-jiwa anak bangsa
Masih ditimang Sang Pencipta
Dengan penuh cinta


Di tengah kemarau
Jiwa-jiwa mesti tetap subur
Merajut  kata damai
Bukan pada sekeping bibir belaka
Merangkai kata kasih
Bukan sebatas mimpi saja
Menyusun  butir-butir cinta
Bukan dengan jurus-jurus perang
Tapi dengan  doa bersama
Dan kelembutan akal dan iman

Alirkan doa-doa
Dari gereja dan kapel
Dari masjid dan mushola
Dari  puradan kuil
Dari litang atau klenteng
Dari vihara  dan sinagoga
Dengan cara dan bahasa beragam
Biarkan butir-butir doa
Menjadi air hujan
Menyiram tanah gersang
Di negeri kita

Kemarau ini masih panjang
Jangan siram dengan air mata duka
Jangan lumur  dengan darah dendam kesumat
Jangan hias dengan degki amarah
Karena jalan sesama milik bersama
Jalan damai menuju keabadian
Bukan Tuhan yang menentukan
Tapi kita, yah kita
Maukah kau berdamai?

Masih ada kemarau di negeri kita
Matahari memanggang jiwa rana
Menggoda untuk melaknat
Menyudahi kemarahan dengan bara api
Menghentikan kedengkian dengan tombak dan parang
Memadamkan permusuhan dengan bedil
Tidak  mungkin  selesai!
Karena darah yang keluar dari tubuh sesama
Membuat luka makin menganga
Kemarau semakin tambah panjang
Dan jalan  damai roboh

Yah, hari ini masih ada kemarau
Tapi esok  hujan pasti turun
Taman-taman kembali hijau
Bunga-bunga kembali mekar
Cinta bersemi
Kasih bertaut
Persaudaraan terekat
Tanpa perbedaan
Karena kita dilahirkan
Di negeri dengan keragaman
Indonesia jalan damai menuju nirwana.***


Denpasar, 23 Juli 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU