KEPADA PEMIMPIN TANPA NAMA
Kau tanya padaku
Bagaimana potret
rakyat di desa
Tempat masa kanak-kanak kau
lewati
Sampai waktunya kau ke kota
Dan kembali lagi untuk
meminta dukungan
Memanen suara-suara mereka
yang jelata
Menghantarmu ke singgasana
Mereka adalah potret-potret
kusam
Terlilit gurita
kemiskinan
Rakyat adalah berjuta anak negeri
Diusung oleh para pencari
kursi jabatan
Yang bersuara lantang dalam
teriakan
Menghentak jiwa hingga
rakyat jatuh cinta
Karena terpesona pada
janji-janjimu
Hingga mereka menentukan pilihan
Dan kamu melenggang ke singgasana
mewah
Janji-janjimu sdeindah
sinar keemasan di kaki langit
Setiap kata yang kau
ucapkan semanis madu hutan
Dan janji-janji yang kau luapkan
senikmat anggur merah
Tapi kau juga yang mengkhianati
Karena kau tak punya
apa-apa untuk menepati janjimu
Sebab tanganmu pun terulur
menadah jatah
Dari pundi-pundi negara
Uang rakyat yang
kemiskinannya kau jual
Rakyat punya
wakil-wakil
Yang masih teriak
atas nama kelaparan rakyat jelata
Tapi dengan bola mata yang
tertutup
Hingga tak mampu melihat
potret kusam anak petani lara
Yang meratap berjuta
hektar sawah yang kekeringan
Karena sumber mata air
yang berhenti membasuh bumi
Sedang air mata mereka tak
cukup untuk menyuburkan padi
Para wakilnya tak pernah
merasakan sengat mentari
Karena tubuhmu dijilati
kipas angin berharga miliaran
Sedang berjuta
rakyat menyusuri jalan di lereng bukit
Dan telapak kaki tanpa
kasut menuruni jurang
Memanggul jerigen di
pundaknya
Sambil berdendang merayu
Tuhan
Agar segera menyiramkan
hujan dari langit
Karena sumber
air pun semakin menjauh
Para pemimpin yang
telah bersumpah
Untuk memberi
manna berlimpah pada rakyat
Tak kuasa memenuhi janji-janjinya
Dan ketika rakyat minta
tanggung jawab
Kamu hanya mengelus
jiwanya
Sambil mendaraskan
simfoni penghiburan
Agar rakyat kuat dan
tabah menghadapi nasibnya
Ketika harga beras terus
melambung
Kamu berteriak-teriak
dengan lantang demi dirimu
Katamu gaji yang
jutaan rupiah belum cukup
Untuk memberi makan anak
istrimu
Kamu berteriak “Naikkan
gaji kami”
Sedang rakyat di saat yang
sama pun berteriak
Beri kami segenggam beras dan
segelas air
Untuk menyambung hidup di
negeri ini
Karena lumbung kami
sudah terkuras
Dan sumur kami
telah mengering
Adakah kamu mendengar?
Kamu tak akan
merasakan penderitaan
Selaksa rakyat di pedesaan
Yang berbaring
beralaskan tikar tua
Mereka tak bisa membeli
kasur empuk
Seperti milikmu di rumah
dinas
Yang kamu belanja
dengan uang rakyat
Hingga miliaran rupiah
Kamu semua aneh
Ketika negeri ini
dalam bayang-bayang bangkrut
Kamu berjuang
untuk dirimu sendiri
Tanpa rasa malu
Coba sedengkan telingamu
Dan dengarlah suara rakyatmu
Mereka mencemoohmu meski
tetap dalam diam
Karena mereka merasa
sia-sia berteriak
Sebab kamu pasti
tidak bisa mendengar
Sadarlah!***
Denpasar, 20 September 2015
Komentar
Posting Komentar