SENJA DI KALI MADIUN





Bersamamu  burung camar
Kita bersenandung tentang matahari
Yang menepi di kaki langit
Menyongsong malam
Menjenguk kelam
Aku masih di sini
Merindu sungai yang bersih
Dan perempuan
Bermata  sayu
Menerkamku

Aku  ingin terbang
Menembus  langit kota ini
Menghitung  bola lampu jalanan
Dan mencatat  setiap  sabda
Yang lahir dari  hembusan alam
Lalu kujadikan  ceritera
Saat aku bertemu denganmu
Di suatu waktu nanti

Di tepi  kali Madiun
Aku menguak tabir  malam
Menyapamu dengan bahasa seadanya
Ketika kau melambaikan tangan dari kejauhan
Sambil bermadah: Pulanglah!
Ah, aku ingin  bertarung di sini
Menyusun  patahan-patahan cinta
Menjadi pedang melawan kemiskinan

Di tepi kali Madiun
Rinduku  merebut mahkota
Untuk kutahtakan  di singgasana jiwa
Sebab  usiaku  belum terlambat
Dan kuharap engkau  setia menunggu
Sampai waktu aku pulang
Entah sampai kapan.***

Madiun, awal Pebruari  1987

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

DOA MENJELANG PEMILU