MENGAMPUNI




Tangan penjagal itu penuh darah
Jari jemarinya telah menyusun batu hitam
Menjadi kuburan duka nestapa
Merobek hati perempuan-perempuan
Yang kehilangan para kekasihnya

Hati para penjagal itu penuh kedengkian
Jiwanya terlumur api angkara murka
Menghanguskan jiwa raga perempuan
Yang menangisi kematian suami
Dan meratapi jasad anak-anaknya

Para penjagal telah mati rasa kemanusiaan
Ia haus dalam kemarau imanya
Dan meminum darah sesamanya
Demi untuk kepuasan batin
Dan rindu berbaring di pangkuan para bidadari

Perempuan-perempuan penuh cinta
Kehilangan orang-orang yang dikasihi
Mulutnya terkatup tak berucap sumpah serapah
Selain mendaras sederet kata memaafkan
Karena Tuhan yang disembahnya maha memaafkan

Perempuan-perempuan yang kehilangan kekasihnya
Bersimpuh di bawah salib Tuhan yang disembahnya
Ia mengatup tangan dan runduk berdoa
Ya Tuhan ampunilah mereka
Kareba mereka tidak tahu yang dilakukan

Perempuan-perempuan yang melahirkan
Menulis sejarah duka dengan kalam iman
Membiarkan kesepian terhapuskan
Oleh belas kasih Tuhan jujungannya
Yang mengajar tentang apa arti saling memaafkan
Dan bagaimana seharusnya saling mengampuni.
Renon, Denpasar 23 Mei 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU