ROMO DOMINIKUS BALO,PR
Tak Sempat Menggapai "Imamat Emas"

Mataloko pagi itu 17 September 2018 udara cerah. Matahari bersinar ceria. Tak ada kabut yang biasanya melilit kota kecil di Lembah Sasa itu. Aku merasa seperti orang asing di kota ini. Pada hal putraku yang sulung lahir di sini.
Aku mengunjungi kota Mataloko untuk sebuah perutusan. Sebuah tugas yang harus aku kerjakan yakni menyusuri jejak panggilan hidup imamat Pater Servasius Subhaga,SVD yang pada 9 Juli 2019 nanti akan merayakan 50 Tahun Imamat. Karena ia pernah belajar di Seminari Mataloko selama setahun maka saya juga harus mencari jejaknya di Seminari yang sudah menghasilkan puluhan Uskup, ratusan imam biarawan dan praja serta ribuan awam yang berkualitas dan berkarakter tangguh.
Setelah mendapatkan data Pater Servas dari bagian administrasi, saya minta ijin untuk bertemu dengan Romo Dominikus Balo,Pr. Seorang guru yang masih mengenal saya semasa saya wartawan SKM Dian mengantar saya ke kamar Romo Domi.
" Ka'e, (kakak) kamar Romo Domi persis di sudut itu. Ka'e masuk saja, dia selalu senang menerima siapa saja, kenal atau tidak kenal", ujar pak guru tersebut.
Saya pun melakukan seperti yang guru itu katakan. Saya mengetuk pintu lalu dari dalam terdengar suara masih segar.
"Masuk saja"
Saya pun masuk lalu memberikan salam selamat pagi kepadanya. Ia menatap saya dengan saksama. Lalu bertanya.
" Engkau dari manakah?"
" Saya dari Bali"
" Ohoohh, jauh sekali. Ada perlu apa dengan saya?"
" Begini Romo. Ketika Romo kuliah filsafat di Ledalero, ada seorang teman satu angkatan dari Bali. Namanya Servasius I Nyoman Rongsong. Romo masih ingat?"
Romo Domi lalu mempersilahkan saya duduk. Kami duduk berhadapan. Ia tampak segar bugar meskipun usia tak bisa dibohongi.
" Yah, saya masih ingat. Kami satu angkatan tahun 1963-1965 belajar filsafat. Dia SVD di Ledalero dan saya di Ritapiret"
" Jadi Romo masih ingat Servas I Nyoman Rongsong yah"
" Yah, sekarang dia ganti nama Servasius Subhaga?"
" Betul Romo"
" Dia itu suka bunga mawar"
" Betul. Sampai sekarang?"
Percakapan kami terkait Pater Servas terhenti. Ia lalu menatap saya dan bertanya.
" Engkau asli dari mana?"
" Saya dari Maghilewa, Paroki St. Martinus Ruto"
" Oh ya, cuma tinggal di Bali?"
" Betul Romo"
" Kalau saya di Ritapiret seangkatan dengan Romo Marcel Myarsa. Dia masih hidup?"
" Masih Romo. Sekarang berkarya di Seminari Tuka"
" Oh, kami sama sudah. Sama-sama berkarya di seminari."
Saya pun mengalihkan percakapan ke hal-hal lain terutama terkait dengan Seminari Tinggi Ritapiret. Saya katakan bahwa saya mengenal Romo saat Tahun Rohani di Seminari Ritapiret.
" Jadi engkau pernah di Ritapiret?"
" Betul Romo, tapi hanya setahun, di Tahun Orientasi Rohani (TOR). Waktu itu Romo adalah Praeses"
" Yah betul"
" Romo saya yang menjuarai popsinger antar frater dalam rangka pesta rumah 8 September 1987. Saya menyanyikan lagu Widuri"
" Ah, engkau Agus Gedhothuru?"
" Betul Romo"
" Yah, saya ingat engkau nyanyi lagu Widuri. Suaramu bagus"
Itu sepenggal kenangan saya dengan Romo Domi Balo,Pr. Orang tua yang rendah hati. Ia adalah Praeses Seminari Tinggi Ritapiret 1987 - 1990. Ia alumni Seminari Mataloko 1954 - 1961. Lalu menjalani Tahun Orientasi Rohani (TOR) tahun 1962 di Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret. Tahun 1963-1965 kuliah filsafat di STFK St. Paulus Ledalero. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 26 Juli 1970.
Ketika ia tahu bahwa saya dipercayakan menulis buku "Jejak Langkah" Pater Servas menapaki jalan panggilan Romo Domi berujar.
" Pater Servas lebih dulu ditahbiskan. Saya bersama Romo Marcel Myarsa tahun 1970. Jadi saya nanti pesta emas imamat pada 26 Juli 2020 nanti. Mudah-mudahan bisa tembus"
Romo Domi sudah merayakan imamatnya bersama Yesus di dalam surga. Ia memang tidak berhasil menggapai usia imamat emas, tetapi ia sendiri adalah emas untuk semua orang yang pernah dilayaninya. Emas untuk para frater Ritapiret angkatan 1987-1990. Emas bagi kami yang pernah mengenal dan menerima berkat pelayanannya.
Selamat jalan Romo Domi. Pertemuan 17 September 2018 di kamarmu adalah kenangan terakhir bersamamu. Saya sengaja membuat tulisan ini untuk ditinggalkan, manakala saya pun akan menempuh jalan seperti yang saat ini engkau alami. Tuhan menerimamu di surga.***
Denpasar, 5 Pebruari 2019
Komentar
Posting Komentar