KAU JANGAN TIPU RAKYAT
Teman, kau masih ingat atau sudah lupa?
Atau kau pura-pura lupa ko?
Ketika hari ke hari kita turun ke jalan
Engkau memimpin parlemen jalanan
Orasi berapi-api penuh geram
Di bawah terik matahari kota
Melawan tirani negeri sendiri
Karena di gedung rakyat
Seribu bibir sudah disumbat
Seribu bibir kelu dan gagap
Tak bisa bicara keadilan dan kebenaran
Karena sudah ditawan kuasa dan harta
Atau kau pura-pura lupa ko?
Ketika hari ke hari kita turun ke jalan
Engkau memimpin parlemen jalanan
Orasi berapi-api penuh geram
Di bawah terik matahari kota
Melawan tirani negeri sendiri
Karena di gedung rakyat
Seribu bibir sudah disumbat
Seribu bibir kelu dan gagap
Tak bisa bicara keadilan dan kebenaran
Karena sudah ditawan kuasa dan harta
Teman, kau masih ingat atau sudah lupa?
Atau pura-pura lupa ko?
Ketika kita mendatangi gedung dewan
Engkau memimpin pasukan jelata
Yang tak punya senjata dan pakaian kebesaran
Kecuali topi coklat berjambul kuning
Yang tak punya pangkat dan jabatan
Kecuali nama besar "mahasiswa"
Yang tak punya rekening di bank
Kecuali menunggu wesel dari kampung halaman
Tapi semangat kita bernas
Kita berteriak sepanjang napas
"Turunkan rezim korupsi, kolusi dan nepotisme"
Kembalikan tahta untuk rakyat
Atau pura-pura lupa ko?
Ketika kita mendatangi gedung dewan
Engkau memimpin pasukan jelata
Yang tak punya senjata dan pakaian kebesaran
Kecuali topi coklat berjambul kuning
Yang tak punya pangkat dan jabatan
Kecuali nama besar "mahasiswa"
Yang tak punya rekening di bank
Kecuali menunggu wesel dari kampung halaman
Tapi semangat kita bernas
Kita berteriak sepanjang napas
"Turunkan rezim korupsi, kolusi dan nepotisme"
Kembalikan tahta untuk rakyat
Teman, kau masih ingat atau sudah lupa?
Atau pura-pura lupa ko?
Ketika kita dikejar-kejar
Oleh sejuta serdadu bermata waspada
Yang memanggul senjata dan gas air mata
Tidak ke medan perang melawan penjajah
Tapi untuk menghalau anak negara
Yang katanya mengganggu ketertiban
Merusak keamanan
Atau pura-pura lupa ko?
Ketika kita dikejar-kejar
Oleh sejuta serdadu bermata waspada
Yang memanggul senjata dan gas air mata
Tidak ke medan perang melawan penjajah
Tapi untuk menghalau anak negara
Yang katanya mengganggu ketertiban
Merusak keamanan
Teman, kau masih ingat atau sudah lupa?
Atau pura-pura lupa ko?
Ketika senjata menyalak merobek jiwa
Tubuh muda roboh di aspal
Diseret seperti bangkai anjing kurap
Kulit legam disambar sangkur
Darah merah tak lagi berharga
Teman perjuangan ditangkap
Mereka tak lagi kembali hingga kini
Hilang tanpa jejak
Tanpa tahu dimana pusaranya
Atau pura-pura lupa ko?
Ketika senjata menyalak merobek jiwa
Tubuh muda roboh di aspal
Diseret seperti bangkai anjing kurap
Kulit legam disambar sangkur
Darah merah tak lagi berharga
Teman perjuangan ditangkap
Mereka tak lagi kembali hingga kini
Hilang tanpa jejak
Tanpa tahu dimana pusaranya
Teman, kau masih ingat atau sudah lupa?
Atau pura-pura lupa ko?
Ketika air mata ibu luruh ke bumi
Menunggu anak kesayangan tak pulang
Meski aksi turun ke jalan telah usai
Kita menabur bunga di Trisakti
Menyalakan sejuta lilin di jembatan Semanggi
Merangkai litania doa
Bagi pahlawan yang gugur
Meski jasadnya entah ditanam di bumi mana
Atau pura-pura lupa ko?
Ketika air mata ibu luruh ke bumi
Menunggu anak kesayangan tak pulang
Meski aksi turun ke jalan telah usai
Kita menabur bunga di Trisakti
Menyalakan sejuta lilin di jembatan Semanggi
Merangkai litania doa
Bagi pahlawan yang gugur
Meski jasadnya entah ditanam di bumi mana
Teman, kuharap kau masih ingat
Ketika kau berdiri di podium
Engkau menjadi penyambung lidah rakyat
Yang puluhan tahun dizolimi
Suaramu keras bagai besi sembrani
Turunkan rezim diktator
Basmi koruptor dari negeri kami
Usir penjarah dari bumi pertiwi
Kembalikan demokrasi milik rakyat
Karena rakyat tak mau dibohongi lagi
Ketika kau berdiri di podium
Engkau menjadi penyambung lidah rakyat
Yang puluhan tahun dizolimi
Suaramu keras bagai besi sembrani
Turunkan rezim diktator
Basmi koruptor dari negeri kami
Usir penjarah dari bumi pertiwi
Kembalikan demokrasi milik rakyat
Karena rakyat tak mau dibohongi lagi
Teman, hari ini kulihat kau pura-pura lupa
Pada jiwa raga dan detak jantungmu yang tulus
Pada mutiara kata indah penuh makna tercipta
Pada semangat juang yang katamu "demi rakyat"
Maaf teman, sekali lagi maaf teman!
Hari ini kulihat semuanya telah berubah
Kau pernah berjibaku di gedung dewan terhormat
Dengan suara lantang "demi rakyat"
Berjuang mati-matian membela mereka
Dan hari ini kau ditangkap
Digiring ke penjara
"Kau koruptor"
Puihhhhhhh
Pada jiwa raga dan detak jantungmu yang tulus
Pada mutiara kata indah penuh makna tercipta
Pada semangat juang yang katamu "demi rakyat"
Maaf teman, sekali lagi maaf teman!
Hari ini kulihat semuanya telah berubah
Kau pernah berjibaku di gedung dewan terhormat
Dengan suara lantang "demi rakyat"
Berjuang mati-matian membela mereka
Dan hari ini kau ditangkap
Digiring ke penjara
"Kau koruptor"
Puihhhhhhh
Hari ini kusaksikan
Dengan pakaian kebesaran polisi pamong praja
Engkau turun ke jalan kota
Menghalau pedagang kaki lima
Merobohkan gubuk tempat mereka berteduh
Membakar gerobak tua tempat mengais rejeki
Menangkap pengemis jalanan
Padahal mereka adalah rakyat
Yang dulu kau bela setengah mati
Dengan pakaian kebesaran polisi pamong praja
Engkau turun ke jalan kota
Menghalau pedagang kaki lima
Merobohkan gubuk tempat mereka berteduh
Membakar gerobak tua tempat mengais rejeki
Menangkap pengemis jalanan
Padahal mereka adalah rakyat
Yang dulu kau bela setengah mati
Hari ini kusaksikan
Dengan jabatan yang kau sandang
Meski hanya berusia lima tahun
Engkau ciptakan hukum dan aturan
Mengharuskan rakyat tunduk taat
Dan ketika mereka melawan
Engkau keluarkan perintah:
Tangkap dan penjarakan mereka!
Dengan jabatan yang kau sandang
Meski hanya berusia lima tahun
Engkau ciptakan hukum dan aturan
Mengharuskan rakyat tunduk taat
Dan ketika mereka melawan
Engkau keluarkan perintah:
Tangkap dan penjarakan mereka!
Hari ini kusaksikan
Dengan kuasa yang rakyat beri padamu
Engkau undang para pemodal
Berbondong-bondong datang ke kerajaanmu
Kau katakan:Jangan bawa tofa
Kau katakan: Jangan bawa cangkul
Kau katakan: Jangan bawa parang dan sabit
Kau katakan: Jangan bawa skop
Karena kau sudah malas mengajar rakyatmu
Menggembur tanah di sawah ladangnya
Dengan kuasa yang rakyat beri padamu
Engkau undang para pemodal
Berbondong-bondong datang ke kerajaanmu
Kau katakan:Jangan bawa tofa
Kau katakan: Jangan bawa cangkul
Kau katakan: Jangan bawa parang dan sabit
Kau katakan: Jangan bawa skop
Karena kau sudah malas mengajar rakyatmu
Menggembur tanah di sawah ladangnya
Hari ini kusaksikan
Dengan jabatan yang kau miliki
Engkau undang para konglomerat
Berbondong-bondong datang ke tanah leluhurmu
Kau katakan: Bawalah bakul-bakul rupiah
Kau katakan: Bawalah buldoser
Kau katakan: Bawalah eksavator
Kau katakan: Bawalah biji-biji dinamit
Karena kau mau menumbangkan bukit-bukit
Merobohkan gunung-gunung
Melubangi hamparan padang
Karena katamu: Inilah jalan yang harus ditempuh
Untuk menghidupi rakyat
Dengan jabatan yang kau miliki
Engkau undang para konglomerat
Berbondong-bondong datang ke tanah leluhurmu
Kau katakan: Bawalah bakul-bakul rupiah
Kau katakan: Bawalah buldoser
Kau katakan: Bawalah eksavator
Kau katakan: Bawalah biji-biji dinamit
Karena kau mau menumbangkan bukit-bukit
Merobohkan gunung-gunung
Melubangi hamparan padang
Karena katamu: Inilah jalan yang harus ditempuh
Untuk menghidupi rakyat
Teman, aku tak punya senjata untuk melawanmu
Tetapi aku hanya punya mata pena
Menulis sejuta kata
Untuk engkau renungkan
Kau jangan tipu rakyat ko....
Tetapi aku hanya punya mata pena
Menulis sejuta kata
Untuk engkau renungkan
Kau jangan tipu rakyat ko....
Denpasar, 1 April 2015
Komentar
Posting Komentar