DOA PAGI 2




Tuhanku, jika Engkau memberiku mulut
Dan aku gunakan untuk menghujat sesamaku
Sekarang juga jadikan saja aku pohon buah
Agar tanpa mulut namun aku hidup
Menghasilkan buah berlimpah
Dan burung-burung datang bersarang
Kelelawar mengais makan malamnya
Dan aku tak bisa bicara
Karena aku hanya pohon buah
Yang bermanfaat untuk mahluk ciptaan

Jika Engkau memberiku sepasang tangan
Dan aku gunakan untuk membidik senjata tajam
Menghunuskan belati ke jantung sesamaku
Sekarang juga jadikan saja aku batu pantai
Agar tanpa tangan namun aku selalu hadir
Setia di saat air pasang menjilat
Dan tetap tegar di saat air surut merunduk
Meski tubuhku akan terpanggang terik matahari
Dan perempuan kampung setia mencungkil kimang
Aku tak akan menempelengnya
Karena aku hanya batu pantai
Yang selalu ada di setiap generasi

Jika Engkau memberiku sepasang kaki
Dan aku gunakan untuk mengejar sesamaku
Hanya karena tak senafas atau sebangsa
Tak sesuku atau seagama
Sekarang juga jadikan saja aku awan
Agar tanpa kaki-kaki tapi aku melangkah
Melintas di atas negeri bangsa-bangsa
Dan semua orang menengadah tanpa melarang
Kecuali decak kagum yang tak berujung
Karena awan selalu menawarkan rasa damai
Dan meneteskan bulir hujan untuk dunia

Jika Engkau memberiku sepasang mata
Dan aku gunakan untuk melihat kelemahan orang lain
Dan meneropong kehidupan harian sama saudaraku
Sekarang juga jadikan saja aku cacing tanah
Agar tanpa mata tapi bisa melihat dengan ramah
Melata di jalanan tanpa suara
Meski bisa menjadi korban derap sepatu pejalan
Tak meresahkan dunia
Dan menyuburkan kebaikan

Jika Engkau memberiku sepasang telinga
Dan aku gunakan untuk mendengar ceramah-ceramah
Yang membuatku hidup dalam kesesatan
Dan memecahbelahkan persaudaraan
Sekarang juga jadikan saja aku sebatang lilin
Yang memberi nyala syahdu
Dan semua orang memandangku dengan senyum
Sebab lebih baik hancur karena perbuatan baik
Dari pada menjadi pahlawan dengan menindas sesama

Jika Engkau memberiku segumpal otak
Dan aku gunakan untuk merancang perang
Atau menyusun strategi teror membunuh sesama
Sekarang juga jadikan saja aku kerbau dungu
Yang penurut pada tuannya
Dan dengan tubuh yang kuat
Membajak sawah di musim kerja
Karena lebih baik punya otak yang dungu
Tetapi menghasilkan bulir-bulir padi bernas
Yang memerdekakan anak bangsa dari kelaparan

Tuhanku
Jika aku harus tetap menjadi manusia
Cukuplah Engkau jadikan saja aku
Manusia yang rendah hati
Dengan dua tangan yang selalu merangkul
Dua kaki yang mendatangi sama saudara
Dua telinga yang mendengar dengan benar
Dua mata yang melihat dengan tepat
Dan otak yang berpikir tentang kebersamaan
Serta selera tinggi untuk mampu merasakan
Bahwa perbedaan itu indah
Seperti bunga warna-warni di taman bakti.****
Denpasar, Minggu Pagi 26 Juli 2015
Untuk siapa saja yang mencintai perdamaian

Ketika Aku Iri
Aku iri pada kupu-kupu
Terbang bebas di ladang bunga
Bertengger di satu kelopak kembag
Mengepak sayap di waktu sama
Tanpa peduli warna hitam putih
Atau pada lekak-lekuk tubuh
Dan pada tajam atau tumpul sungutnya
Selalu gembira menikmati keindahan
Tanpa pertengkaran

Aku iri pada lebah madu
Terbang bebas di taman luas
Mengepak sayap tanpa saling sikut
Menyedot sari pada kuncup bunga
Tanpa saling mendera
Tanpa saling merampas
Tanpa saling menyiksa

Aku iri pada kelelawar malam
Di saat senja selalu bersama
Meninggalkan sarang
Menembus kegelapan malam
Pergi entah sampai di ujung mana
Mencari nafkah tanpa pertengkaran
Dan kembali di ujung pagi
Tanpa perkelahian

Aku ingin hidup damai dan penuh persaudaraan
Di negeri seribu pulau
Tanpa pertengkaran
Tanpa perkelahian
Tanpa korban harta dan nyawa
Tanpa ceceran darah dan air mata
Kecuali bersama-sama
Menuju tanah terjanji
Milik kita bersama.***
Denpasar, 28 Juli 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU