KENANGAN WAKTU ITU
Biar waktu terus berlalu
Dan tiupan angin silih berganti
Pepohonan kota menghijau
Dan desing pelor lenyap
Air mata ibu belum juga kering
Masih tercurah
Membasahi jalanan kota
Yang pernah dilumuri darah
Dan tiupan angin silih berganti
Pepohonan kota menghijau
Dan desing pelor lenyap
Air mata ibu belum juga kering
Masih tercurah
Membasahi jalanan kota
Yang pernah dilumuri darah
Biar derap sepatu tak lagi
menjilat aspal
Dan kabut asap gas air mata sirna
Biar suara kertakan gigi amarah mereda
Dan anak negeri kembali bersolek
Kisah hitam pekat itu tak mungkin terkubur
Dan luka batin ibunda tak bisa disembuhkan
Dan kabut asap gas air mata sirna
Biar suara kertakan gigi amarah mereda
Dan anak negeri kembali bersolek
Kisah hitam pekat itu tak mungkin terkubur
Dan luka batin ibunda tak bisa disembuhkan
Biar lantunan doa terus
bermegah
Dan suara jiwa berpasrah
Biar kata umpat tak lagi terdengar
Dan pasrah sujud di kaki Sang Khalik
Bau darah belum terhapuskan
Karena setiap detik terus menetes
Dari luka jiwa perempuan rindu
Dan suara jiwa berpasrah
Biar kata umpat tak lagi terdengar
Dan pasrah sujud di kaki Sang Khalik
Bau darah belum terhapuskan
Karena setiap detik terus menetes
Dari luka jiwa perempuan rindu
Waktu tak akan bisu
Ia akan terus berkisah
Tentang kebiadabanmu
Yang tega memetik kembang merekah
Dari taman hati perempuan negerimu
Meski ia memaafkanmu
Dan kenangan waktu itu
Akan tetap abadi
Ia akan terus berkisah
Tentang kebiadabanmu
Yang tega memetik kembang merekah
Dari taman hati perempuan negerimu
Meski ia memaafkanmu
Dan kenangan waktu itu
Akan tetap abadi
Denpasar 12 Mei 2015
Mengenang Tragedi Trisaksi
Mengenang Tragedi Trisaksi
Komentar
Posting Komentar