PAKDE OH PAKDE
Rambutmu
sudah berhiaskan
kembang warna-warni
Itu tanda engkau sudah cukup lama
menziarahi bumi
Kulit tubuhku sudah berkeriputan
tanda dimakan waktu yang tak bisa kau elahkan
Gigi-gigimu satu persatu rontok tanda sudah tak
kuat menopang kekerasan jaman
Engkau sudah terlalu tua untuk ukuran sebuah
kehidupan
Ketika kau
masih muda suaramu lantang menerjang setiap generasi
Orang yang mendengarmu memaklumi sambil berkata: Maklum darah masih panas
Ketika kata demi kata melesat dari bibir dan tak beraturan
Orang bisa maklum sambil berkata: Maklum pendidikannya masih rendah
Tapi
sekarang engkau sudah terlalu tua untuk mengaum seperti harimau
Taring-taringmu sudah tumpul dan tak bisa menggergaji nurani siapapun
Apa lagi kau pernah bermain di atas panggung negeri ini
Kau merusak nilai kebangsaan dengan dalil amandemen
Aku heran
saja menyaksikan kau selalu salah bicara
Pada hal pendidikanmu sudah sampai profesor yang seharusnya kau profesional
Kau seperti mobil tua yang raungan mesinnya semakin melemah
Dan otakmu sudah dikotori dengan oli kebencian
Yang keluar dari hati yang hitam dan pikiran yang tak waras lagi
Pakde ,
seandainya kau diam dan sekali saja kau bicara tentang kebenaran
Aku akan mengakui kepakaramu lalu mengacungkan jempol
Berjuta kali kudaraskan pujian atas ketokohan dan kenegarawanmu
Sayang, kau sendiri telah merusak wibawamu
Dan aku jadi tak menghargaimu lagi.***
Denpasar, 23
Maret 2018
Komentar
Posting Komentar