PUISI LUSUH UNTUKMU

 

Kau seperti kertas putih
Yang pernah membalut selaksa rakyat
Kau terlihat tanpa titik-titik noda
Lalu burung-burung di ranting bambu
Menderukan siul bersahutan
Tentang karya-karyamu
Tentang kiprahmu
Tentang kesederhanaanmu
 
  
Di rerimbunan daun dadap
Burung-burung melagukan pujian
Mewartakan tentang bijakmu
Yang mereka dengar dari teriakanmu
Mencetar kalbu: Tidak pada korupsi!
Dan mereka berseru: Hidup pemimpinku!
Kau angkat martabat mereka
Ke singgasana penuh senyum dan tawa


Di pesisir pantai pada debur ombak
Pelican bermain dengan buih-buih putih
Seolah membaca jejakmu yang santun
Dan menghirup aroma harum sebuah nama
Tentang jalan cinta yang engkau torehkan
Dan seribu pergam berpantun bersahutan
Tentang slogan-slogamu yang tergantung di tanah ibu
 
Sekarang mereka semua diam
Entah terenyuh atau kecewa
Entah tertawa mengejek atau menangisimu
Atau mungkin menusukmu dengan seribu cacian
Berteriak: Pengkhianat kau!
Dan mereka terbang ke tempat lain
Agar terbebas dari rasa malu
Karena mereka pernah bersekutu denganmu
 
Yah, sekarang kau hitam di mata selaksa rakyat
Harkat dan martabatmu hancur lebur
Kau diteriaki maling
Disumpah serapah garong
Tapi aku di sini teman
Di salah satu sudut kota tempat kita pernah bertemu
Mendaraskan doa-doa untuk menguatkanmu
Sebab sahabat sejati selalu bersama
Di saat suka dan di waktu duka
Itu kita hari ini.***
 
Denpasar, 12 Pebruari 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU