ASA DI TANAH RETAK

 

Tanah ini tercipta dari hembusan nafas Sang Hyang
Yang dititipkan pada leluhur
Untuk diwariskan kepada anak cucu  
Para leluhur kita tak pernah punya niat  
Melukai tanah Bali  
Dan menggadainya dengan lembaran dolar 
Karena tahu tanah ini  
Rahim ibunya dan darah bapanya

Kau telah diwariskan dengan kearifan
Untuk selalu berdamai dengan alammu
Dengan ritual-ritual sakral
Dan upacara-upacara penuh makna
Menanam jiwa agar menyatu
Dengan ibu bumi kehidupan
Agar bencana tergenggam di tangan Tuhan
Dan bumi tempat mahluk mengaso sejenak
Tetap merajut persahabatan


Tetapi kemarin kau bilang padaku
Jaman sudah mengalir makin deras
Katamu: kita ini sedang bertarung
Merebut dan memperoleh kesempatan
Agar hidup tak tergilas jaman
Katamu: Ini saatnya kita harus terus berpacu
Bertarung dan menjadi pemenang
Bila perlu dengan saling menombak kemanusiaan
Meninggalkan mesbah-mesbah persembahan
Dan melupakan wejangan-wejangan leluhur


Kau akhirnya benar-benar lupa
Ajaran leluhur tentang meramahkan alam
Dengan kuasamu kau tikam rahim pertiwi Bali
Karena uang kau jual jengkal-jengkal tanah
Kau rambah hutan lereng gunung
Kau bangun istana di bukit-bukit
Tepi sungai kau buat jadi surga
Sawah ladang kau sulap jadi hotel megah
Laut pun kau timbun
Katamu: Karena Bali sudah terlalu sempit
Untuk mengundang turis berpesta


Oh…sejuta rahim telah melahirkan selaksa anak cucu
Ada yang masih kukuh berpijak di tanah ini
Dengan melafal mantra-mantra kebijaksanaan
Ada yang telah goyah kehilangan selera adat budayanya
Dan selalu memberontak ingin merdeka
Tak ingin diikat oleh aturan-aturan yang kaku
Dan kau bilang: Ini jaman globalisasi
Sampai kau merasa adat budaya tak perlu lagi



Lihatlah…rahim ibunda Bali telah tersobek
Akar-akar tanah kita tak lagi kuat
Memikul beban kesalahan merawat lingkungan
Gunung-gunung murka karena terus dilukai
Bukit-bukit menangis karena digunduli
Sungai-sungai merintih karena disakiti
Laut biru berduka karena dikhianati
Dan air mata bumi kita telah tumpah ruah
Korban darah dan nyawa berjatuhan
Lalu kau bilang: Alam kau sungguh kejam!
 
Kau caci maki leluhur yang menjauhimu
Kau menggugat: Sang Hyang tidak adil
Sudahlah hentikan ocehanmu
Dan mari menoleh ke dalam jiwa
Untuk menemukan jawaban yang pasti
Sebab setiap bencana bukan kehendak Tuhan
Tetapi buah dari kesombongan
Dan Tuhan menegur agar kau dan aku
Menghormati alam ciptaanNya.

Denpasar, 15 Pebruari 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU