MULUTMU OH MULUTMU
Mulutmu itu
seperti mesin-mesin penghancur baja
Setiap kata yang kau ucapkan menyala
Dan bara keluar bersama dahak kebusukan
Membakar dan meluluhlantakkan kebenaran
Kau seperti kehabisan akal
Untuk menghancurkan kepercayaan rakyat
Pada presidennya yang giat bekerja
Kau lesatkan
kata-kata tipuan
Untuk mengelus-elus nurani rakyat
Yang telah kehilangan kepercayaan padamu
Kau coba mengoyakkan keteguhan rakyat
Yang telah mapan memberi harta termahalnya
Satu suara di bilik suara pada pilihan yang tepat
Kau sebarkan
ancaman yang kebenarannya diragukan
Bahwa negeri milik rakyat akan bubar
Kau takuti rakyat dengan guyonan murahan
Dan dagelan yang bermutu rendah
Semakin merendahkan nilai kenegarawanmu
Sepertinya
kau sedang mengedan melahirkan mimpi-mimpi
Di ujung usia yang mengharuskan engkau minggir
Karena masa kini milik generasi yang steril kekejaman sebuah orde
Mestinya
yang kau tawarkan pada rakyat
Adalah pinggan-pinggan berisi tulang belulang
Yang masih engkau sembunyikan entah dimana
Agar kebohonganmu sampai di garis batas
Tempat air mata ibu bapaknya tertumpah ruah
Dan mereka memaafkanmu
Kau sudah
terlalu tua untuk merebut tahta rakyat
Karena mereka sudah pintar menentukan pilihan
Mereka mau pemimpin sederhana yang merakyat
Yang tangannya tak pernah mengokang senjata
Dan anak negeri yang tak berdosa
Terbantai di saat kau punya kuasa
Mulutmu itu
sudah terlalu kotor
Dan kau sendiri tak mampu membersihkan
Hatimu sudah penuh sesak dengan nafsu berkuasa
Dan kau lupa diri bahwa kau sudah tua
Tanganmu itu masih berlepotan darah anak bangsa
Dan kau lupa mengembalikan jasadnya pada ibu bapaknya
Minggir kau
dari panggung demokrasi bangsa ini
Dan mulailah bertapa dan tutup mulutmu
Sebab aku sudah bosan mendengar kicau murahanmu
Sebab setiap kau bicara jiwaku teriris
Ketika pembantaian dan penghinaan waktu itu
Belum terkubur dari catatan sejarah yang kelam.***
Denpasar, 24
Maret 2018
Komentar
Posting Komentar