NEGERI DI ATAS AWAN





Aku berpijak di bumi yang lama ditatah oleh mata bajak
Menjadi sawah dan ladang meski tak merata
Sebab di kampungku hanya ada huma yang gersang
Tempat sejuta tangan mengais kehidupan
Tempat sejuta nyawa menanti janji
Yang dihembuskan para pemahat kekuasaan


Pada setiap detik...
Aku menata suara-suara dari penjuru negeri
Tentang rakyat yang merdeka dari kemelaratan
Tentang para jelata yang harus dibebaskan dari belenggu kelaparan
Tentang sejuta anak busung lapar yang harus disembuhkan


Ocehan kamu kujadikan mahkota
Membangun rasa percaya
Padamu para penebar janji
Puahhhh, kuremuk mahkota kepercayaanku
Karena engkau munafik
Kalian Pembohong!


Lima tahun lalu kau membual
Kini kau datang membual lagi
Sudah itu bersujud di singgasana kursi ajaib
Yang mengantarmu beradu kekuatan di gedung dewan
Saling menggempur demi kebesaran ideologimu
Demi golonganmu
Demi partaimu
Demi perutmu
Hingga tak mendengar lagi jeritan rakyat di emperan super market
Dan di pinggiran gedung pencakar langit
Yang diremas tangan kekar polisi pamong praja


Ahhh...aku muak menjadi penonton
Di sirkus negeri yang saling melumat
Aku ingin menjadi presiden
Memimpin negeri di atas awan
Tanpa birokrasi
Tanpa rakyat
Tanpa partai politik
Tanpa undang-undang
Kecuali harapan
Bahwa bintang-bintang adalah rakyatku
Yang memancarkan satu sinar
Tanpa perbedaan.***

Denpasar 29 Januari 2015


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU