PADA WAJAH LELUHUR


Leluhur-leluhur kita telah menyiarahi seribu jaman
Menyusun batu-batu magis di puncak bukit
Menandai setiap gundukan dengan nama besar
Untuk menjadi wadah menyembah Sang Dewa Zeta*)
Menyampaikan warta pada anak cucu
Yang akan lahir di kemudian hari
Bahwa mereka itu beradab
 
Tiang-tiang batu pemali telah didirikan
Sebagai tempat menulis perjanjian sakral
Untuk diwariskan pada anak cucunya
Agar hidup tidak saling menikam
Dengan pisau dan parang tajam
Atau dengan tombak dan panah berkarat
 
Leluhur-leluhur kita telah membangun keadaban
Pada batu-batu bernama di tengah kampung
Agar setiap generasi yang lahir di kemudian hari
Mengingat selalu pada petuah berharga
Bahwa hidup mesti selalu dirajut dalam kebersamaan
Dan terus berkaca memandang wajah nenek moyangnya
 
Wajah leluhur kita terlukis pada atap alang-alang
Lentik jemarinya tertera pada lukisan kayu pemali
Namanya tertuang pada raga Sao Meze*)
Dan kisah kehidupannya tersimpan di mata raga*)
Berlalu seribu tahun tanpa terkhianati
Karena generasi yang lahir masih pandai menghormatinya
 
Dan kini apakah kita merasakan
Saat bertandang di kampung warisan leluhur ini?
Mungkinkah wajah leluhur merunduk sendu
Menangisi kesepian tanpa asap dari lika lapu*)
Karena anak cucunya tak tahan dengan kesepian
Yang merayap malam di lereng gunung
 
Entahlah sampai kapan kampung ini bertahan
Ketika para pemiliknya lebih terpesona
Dengan deburan ombak di tepi pantai
Membiarkan janji setia dengan leluhurnya
Pelan-pelan punah dari nurani
Dan jiwa raga yang tak lagi menghargai keadaban

Pada wajah leluhur   
Kita telah menorehkan luka
Tak lagi mampu mendengar pedih perih mereka
Ketika kita membiarkan karya tangan terlantar
Dalam ketidakpastian
Antara cintamu dan kianat.***
Maghilewa-Jere, 21 Pebruari 2018

*) Sang Dewa Zeta = Sang Pencipta/Tuhan
Sao Meze = Rumah adat/rumah besar
Mata raga = Tahta kebesaran luluhur
Lika lapu= Tungku api di rumah adat



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU