DUKA ALAM DI MAGHILEWA

Waktu nyanyian alam masih menghias bumi dan langit
Ranting-ranting beringin di gerbang kampung Maghilewa
Menjadi ranjang penuh kisah
Beribu suku burung berpesta birahi
Sebelum bertelur dan menetaskan anak-anaknya

 

Kisah burung-burung yang merdeka
Menghuni Firdaus di lereng gunung
Mendaraskan masmur kehidupan alamiahnya
Membangunkan penghuni kampung tua
Seperti bersalaman: Selamat pagi orang Maghilewa
Lalu semua menengadah ke langit
Menyaksikan para suku burung bermain cinta

 

Dan saat menjelang senja
Burung gagak pulang dari pertarungan
Pergam pulang dari hutan Inerie
Kakatua dan nuri pulang dari ladang jagung
Pipit kecil pulang dari padang alang-alang
Mengasoh di rimbun beringin
Bermesraan semalam suntuk

 

Kini para suku burung telah hilang
Beringin di gerbang kampun telah tumbang
Para lelaki mengarahkan moncong senapan
Pada tubuh mungil penghias bumi
Semuanya sudah punah
Meninggalkan pagi yang sunyi
Dan menawarkan senja yang kelam

 

Adakah kau mendengar tangis duka di Maghilewa
Ketika kehidupan para mahluk alam raya
Berakhir di tangan para lelaki yang kehilangan belas kasih?
Entahlah, apakah penjagal bisa bertobat
Dan membiarkan bumi diwariskan apa adanya
Agar anak cucumu dapat menyaksikan dunia yang sebenarnya.***

Renon 28 Mei 2018

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

DOA MENJELANG PEMILU