KEPADA PENYAIR DOA-DOA SEMESTA




Ini kata-kata kurangkai dari keheningan
Dengan butir-butir air mata
Tidak untuk menangisimu
Sama sekali tidak
Tapi mengenangmu pada penggalan waktu
Aku terpaksa menengok kembali ke masa lalu
Saat pertemuan denganmu
Di Ende kota penuh kenangan
Pada catatan waktu di album hidupku

Sorot matamu
Senyummu
Ramahmu
Dan berkat yang senantiasa mengalir
Setiap kali ada pertemuan
Dan setelah usai perhelatan
Aku mengenangmu sebagai kakak yang baik
Sahabat yang sejati
Guru yang bersahaja
Imam yang taat

Engkau telah memaparkan ayat-ayat kehidupan
Yang harus dilakoni seorang juru warta
Engkau tanamkan semangat kesetiaan
Untuk mencintai apa yang telah dipilih
Engkau tuliskan wejangan-wejangan inspiratif
Yang terus membekas dalam ingatan
Engkau telah memberitahuku
Bagaimana mengumpulkan kata-kata
Untuk menjadi sarapan yang menghidupkan

Jalan panjang telah engkau lalui
Sejarah pun telah engkau tuliskan
Monumen telah engkau dirikan
Untuk engkau wariskan
Agar semua yang pernah mengenalmu
Mengirimkan "doa-doa semesta"
Doa yang pernah mengalir dari sanubarimu
Dan doa yang engkau abadikan
Untuk batas waktu yang tak ditentukan

Hari ini perjalananmu berakhir
Ziarahmu telah sampai di batasnya
Tetapi buah-buah kalam tak pernah hilang
Sebab engkau sendiri telah wariskan
Untuk kudaraskan pada siang dan malam
Juga ketika aku merindumu
Aku tahu engkau masih hidup
Dalam sejuta kata
Dalam doa-doa semesta.***

Denpasar, 27 Oktober 2017
Selamat jalan Pater John Dami Mukese

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

PENYERAHAN