SATU MATAHARI UNTUK KITA
Mari kita menyatukan napas
Untuk meniup bara matahari
Agar tetap membara
Sebab tampaknya
Matahari di negeri kita
Makin suram
Menunggu waktu kapan padam
Untuk meniup bara matahari
Agar tetap membara
Sebab tampaknya
Matahari di negeri kita
Makin suram
Menunggu waktu kapan padam
Kita sudah terlalu latah
Membalut langit dengan bahasa darah
Menjolok matahari dengan tombak racun
Melulurnya dengan desah nafas geram
Menikam dengan belati mematikan
Tanpa rasa persaudaraan
Penuh aroma permusuhan
Membalut langit dengan bahasa darah
Menjolok matahari dengan tombak racun
Melulurnya dengan desah nafas geram
Menikam dengan belati mematikan
Tanpa rasa persaudaraan
Penuh aroma permusuhan
Mari kita tengadah ke langit
Lihatlah luka-luka di wajah sang Surya
Dan tangan Tuhan berlumuran darah
Yang ditampung dari jasad ciptaanNya
Dari Medan perang
Dari arena hidup penuh geram
Yang hilang rasa kemanusiaan
Lihatlah luka-luka di wajah sang Surya
Dan tangan Tuhan berlumuran darah
Yang ditampung dari jasad ciptaanNya
Dari Medan perang
Dari arena hidup penuh geram
Yang hilang rasa kemanusiaan
Mari kita meratap bersama
Atas luka- luka bumi yang kita ciptakan
Di saat kita tak mampu lagi
Mengekang birahi saling membunuh
Kita mesti merajut lagi
Kasih yang terancam punah
Sebab kita hanya punya satu matahari
Yang tak perlu diperebutkan.
Atas luka- luka bumi yang kita ciptakan
Di saat kita tak mampu lagi
Mengekang birahi saling membunuh
Kita mesti merajut lagi
Kasih yang terancam punah
Sebab kita hanya punya satu matahari
Yang tak perlu diperebutkan.
Denpasar 20 Pebruari 2017
Komentar
Posting Komentar