PUISI MALAM UNTUK AYAH
Telah kuhitung detak waktu yang berlari
Bersama rindu
Tentang kehidupan
Di tanah leluhur
Yang tetap kuabadikan
Dalam catatan sejarah
Catatan kehidupan
Bersama rindu
Tentang kehidupan
Di tanah leluhur
Yang tetap kuabadikan
Dalam catatan sejarah
Catatan kehidupan
Rentang waktu yang panjang
Sepanjang masa-masa yang hilang
Kehilangan di usia muda
Kini aku menoleh ke masa silam
Menemukan jejak-jejakmu
Yang hilang di bukit dan lembah
Tetapi terlukis indah di sanubari
Sepanjang masa-masa yang hilang
Kehilangan di usia muda
Kini aku menoleh ke masa silam
Menemukan jejak-jejakmu
Yang hilang di bukit dan lembah
Tetapi terlukis indah di sanubari
Ah...tak sejenak pun terhapus
Jejak kenangan bersamamu
Akan abadi sampai batas waktuku sampai
Empatpuluh dua tahun berlalu
Bukanlah hitungan yang pendek
Tapi itu adalah sejarah
Yang mesti kupahat setiap musim datang
Saat matamu terpejam selamanya
Dan nafasmu kembali padaNya
Jejak kenangan bersamamu
Akan abadi sampai batas waktuku sampai
Empatpuluh dua tahun berlalu
Bukanlah hitungan yang pendek
Tapi itu adalah sejarah
Yang mesti kupahat setiap musim datang
Saat matamu terpejam selamanya
Dan nafasmu kembali padaNya
Untuk sebuah musim yang datang
Kudaraskan doa untukmu
Pada kenangan yang menyapa
Kusebut namamu
Sambil kulantunkan madah
Ayah, dalam hening malam
Kurindu engkau
Pada bait-bait puisi ini
Puisi malam penuh rindu.***
Kudaraskan doa untukmu
Pada kenangan yang menyapa
Kusebut namamu
Sambil kulantunkan madah
Ayah, dalam hening malam
Kurindu engkau
Pada bait-bait puisi ini
Puisi malam penuh rindu.***
Denpasar 5 November 2017
Kepada ayahku: Arnoldus Deghe
Kepada ayahku: Arnoldus Deghe
Komentar
Posting Komentar