SEANDUNG RINDU DI KAMPUS PUTIH



Ayah, aku memulai  ayunan langkah
Menggapai  matahari di kampus putih
Meski terasa jauh
Aku tak punya apa-apauntuk  merekat jiwa
Agar menjadi kuat
Hanya ada cita-cita
Seperti kecambah yang bertunas di tengah kemarau
Meski selalu ada satu titik harapan

Ini adalah ayunan pertama di kampus putih
Dan aku telah memulai
Kuharap engkau selalu hadir
Di saat  aku membutuhkanmu
Sebab aku senantiasa menghadirkanmu
Di setiap penggal doa yang terucapkan

Di  sini  duniaku berbeda
Suaraku tak lagi lantang
Dan  setiap waktu yang  kulewati
Adalah  bait-bait penuh perjuangan
Sebab jika aku melawan arus
Aku akan terseret ke tengah gelombang
Dan mungkin aku akan tenggelam

Ayah, aku  ingin mencoba
Menyusuri  jalan terjal  di negeri ini
Meski  aku sadar  ada kuk di pundakku
Ketika  aku kalah menerjang rindu
Pulang ke negeri  kebebasan
Yang membuatku bebas berlari
Tanpa  ruas-ruas tata aturan

Aku telah menoreh janji di pusaramu
Akan pulang  setelah panen
Oh, saat ini  aku baru menyabit rumput
Untuk  menanti  datang waktunya menabur benih
Dan  memetik bulir-bulirnya
Masih  ada anak tangga menuju puncak
Dan  aku harus menapaknya satu persatu

Yang kuharap  adalah sinar matamu
Tak  boleh sekejap pun  padam
Kau harus terus memanahku dari surga
Dan aku  yakin  engkau mendekapku
Sambil meniupkan api cintamu ke dalam sembiluku
Supaya  aku  kuat dan tetap tegak berdiri
Sebagai pejuang untuk diriku sendiri.***

Kampus IPI Malang, Akhir Agustus 1982

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUATU PAGI DI CORNELIUS

SENJA DI KALI MADIUN

PENYERAHAN